• Home
  • Rohul
  • RSUD Rohul Terbelit Hutang Rp 5,3 Milyar, Uang Jasa Medis 4 Bulan Tak Dibayar

RSUD Rohul Terbelit Hutang Rp 5,3 Milyar, Uang Jasa Medis 4 Bulan Tak Dibayar

Minggu, 07 Januari 2018 | 22:29
ROHUL, RIAUGREEN.COM - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Rokan Hulu (Rohul),Riau ternyata masih memiliki hutang Obat kepada distributor. 

Jumlahnya tidak tanggung-tanggung mencapai Rp 5.3 miliar. Tidak hanya itu, sejumlah dokter dan perawat juga mengancam mogok, karena uang jasa Medis mereka sudah 4 bulan tidak dibayarkan Managemen RSUD.

Ironisnya, Kondisi bertumpuknya Hutang di RSUD Rohul tersebut baru diketahui saat Hearing Komisi III DPRD Rohul, bersama manajemen RSUD, Dinas Kesehatan dan Tim Anggaran pemerintah Daerah (TAPD), Rabu (03/01/2018) Sore.

Kebingunganpun Muncul, bagaimana cara melunasi Hutang Obat RSUD, karena  APBD Rohul 2018 Sudah disahkan dan tidak mungkin di revisi kembali. Apakah RSUD harus ditutup sementara, karena distributor obat menstop suplai Obat?.

Dalam Hearing tersebut, Direktur RSUD dr.Paisal Harahap menyatakan Kondisi Hutang RSUD Sejak Tahun 2015 terus membengkak mulai dari Rp.3,3 miliar, 2016  Rp.3.4 Miliar dan 2017 menjadi Rp. 5,3 miliar. 

Ia berdalih, membengaknya Hutang obat tersebut karena RSUD terpaksa membeli obat di Apotek yang harganya lebih mahal, akibat terhentinya suplai obat dari distributor.

"Kebutuhan RSUD itu 1,1 sampai sampai 1,2 miliar per bulannya sementara kemampuan dari RSUD hanya di angka 700 juta sehingga minus 300 juta per bulan sehingga inilah yang menjadi hutang baru di setiap tahunnya dari tahun 2016-2017," papar Sukiman.

Kondisi RSUD yang terbelit hutang ini, membuat Anggota DPRD dan Tim TAPD terkaget-kaget. Pasalnya, selama ini pihak RSUD tak pernah mengeluarkan data terkait kondisi Hutang dalam setiap pembahasan APBD 2018. TAPD juga mengakui bahwa persoalan hutang ini sudah pernah  dianggarkan pembayaranya pada tahun 2016.

Kepala Bapeda Rohul Nifzar menyebutkan, Sesuai PP 18/2016 tentang OPD, Anggaran RSUD ditumpangkan pada Dinas Kesehatan, dimana secara mandatory, dinas kesehatan tak kurang mendaptkan kucuran anggaran  10 persen dari APBD. Namun ketika pembahasan APBD 2018, permasalah RSUD ini tidak muncul, dan ketika APBD 2018 sudah di sahkan malah persoalan ini mencuat.   

"Saya ingat ketika pembahasan di banggar, tidak pernah meributkan soal ketersediaan obat, tidak terlayani pasien, dan  tidak terbayarkan jasa medis. saat itu, persoalan yang mengemuka adalah tidak adaya alat ronsen. Tetapi saya kaget jiha ternyata ada hutang obat, kita tidak pernah mendapatkan informasi seperti ini," Kesal Nifzar.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Rohul, meminta kepada Dirut RSUD, Kadis Kesehatan, bersama TAPD, supaya duduk bersama mencari solusi tentang pembayaran utang tersebut dengan saran mengauditnya secara khusus sekaligus mengevaluasi seluruh pejabatnya.

"Ada apa dengan RSUD ini, karena setiap tahun RSUD ini dilakukan audit tetapi tidak kelihatan ada hutang, tapi sekarang kok persoalan ini baru terbuka. Mengapa kita kecolongan, ada apa ini," tanya Wahyuni.

Sementara itu, Kepala Badan Pengeloaan Keuangan Dan Aset Daerah Jaharudin menyarankan agar manajemen RSUD mematangkan kembali Rencana Bisnis Anggaran. Ia juga menyarankan, agar RSUD melakukan Efesiensi dengan mengkaji kembali uang jasa medik serta mengkaji kembali jumlah pekerja di RSUD. (don)

BERITA LAINNYA
Bandar Shabu Dibekuk Polisi di Jalan Kenanga
Selasa, 16 Oktober 2018 | 10:57
Empat Bapak-bapak Diamankan Terkait Judi Togel
Kamis, 11 Oktober 2018 | 12:22
Bawa 11 Paket Narkoba, Warga Rohul Ditangkap
Senin, 17 September 2018 | 12:32
Suami Istri di Rohul Kompak Jualan Sabu
Rabu, 29 Agustus 2018 | 16:33
BERIKAN KOMENTAR
Top