358 Warga Pekanbaru Terserang DBD di Tahun 2018

Senin, 07 Januari 2019 | 17:10
Ilustrasi
PEKANBARU, RIAUGREEN.COM - Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru mendata Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di pekan ke 52 berjumlah enam orang. Jumlah kasus tersebut sama dibandigkan minggu sebelumnya berjumlah enam kasus. Untuk secara kumulatif jumlah kasus DBD di Pekanbaru Dipenghujung tahun 2018 358 kasus.

Untuk enam kasus tersebut terjadi di Kecamatan Lima Puluh satu kasus, Kecamatan Bukit Raya satu kasus, Kecamatan Marpoyan Damai dua kasus dan Kecamatan Tenayan Raya ada dua kasus.

Informasi tersebut diungkapkan Informasi tersebut diungkapkan Kabid Pengendalian Kesehatan Diskes Pekanbaru, Gustiyanti Jumat (4/1). Ia juga menjelaskan untuk secara rincian data DBD yang dirangkum Diskes memalui puskesmas- puskesmas di Kota Pekanbaru hingga Minggu ke 52 tahun 2018 sebanyak 358 kasus dengan rincian Sukajadi 25 kasus, Senapelan 23 kasus, Pekanbaru Kota 11 kasus, Rumbai Pesisir 20 kasus, Rumbai 18 kasus

"Untuk Kecamatan Limapuluh  21 kasus, Sail 4 kasus, Bukit Raya 27 kasus,  Marpoyan Damai 47 kasus, Tenayan Raya 58 kasus, Tampan 52 kasus dan Payung Sekaki 52 kasus. Dari 358 kasus disepanjang tahun 2018 ada 2 kasus yang meninggal dikarenakan DBD," kata Yanti.

Dimana dua kasus tersebut terjadi di bulan April dan bulan Mei. "Sedangkan kasus yang meninggal dikarenakan DBD ini terjadi di Kecamatan Pekanbaru Kota," bebernya.

Ia juga menjelaskan bahwa program pencegahan dengan cara fogging (pengasapan), dan abatesasi yang dijalankan oleh Dinkes tidak bisa menjamin hilangnya ancaman DBD.

Diperlukan peran aktif masyarakat dengan menggalakkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melaksanakan program 3 M (Menutup, Menguras, dan Menimbun).

"Kalau selalu menutup bak mandi, menguras bak mandi dan menimbun tempat-tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk, penyebaran penyakit itu pasti akan bisa ditahan. Kesadaran masyarakat, lah yang perlu menggalakannya," bebernya.

Ia berharap ancaman DBD yang setiap menelan korban jiwa bisa menjadi perhatian semua pihak. Para orangtua juga diimbau agar tidak menyepelekan saat anaknya didera demam. Pasalnya, saat ini telah terjadi mutasi gen pada nyamuk aedes aegepty, yang mengakibatkan penderita yang terserang DBD bisa saja tidak menunjukkan gejala klinis seperti munculnya bintik-bintik merah pada kulit.

"Makanya saran kami, jangan abaikan panas badan pada anak. Segera lakukan pemeriksaan ke Puskesmas atau RS untuk tindakan pengobatan ada keluarga yang demam lebih dari 2-3 hari," tandasnya. (kom)

Loading...
BERITA LAINNYA
APMR Juga Mengadu ke LAM Riau
Senin, 24 Juni 2019 | 18:56
BERIKAN KOMENTAR
Top