• Home
  • Pekanbaru
  • Harimau Bonita Dendam kepada Manusia karena Anaknya Hilang?

Harimau Bonita Dendam kepada Manusia karena Anaknya Hilang?

Rabu, 25 April 2018 | 11:51
RIAUGREEN.COM - Harimau ternyata bisa menyimpan dendam kepada manusia jika keluarganya diganggu, apa lagi ada yang dibunuh. Harimau Bonita diduga juga punya dendam setelah diketahui pernah melahirkan dan memiliki anak.

"Kalau ada keluarganya yang diusik, apa lagi dibunuh manusia, harimau bisa menaruh dendam. Itu fakta lah, bukan mitos," kata Kepala Balai Besar Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono diberitakan detikcom, Selasa (24/4/2018).

Banyak kasus konflik harimau dengan manusia disebabkan satwa liar merasa terusik. Terutama lagi bila ada keluarganya yang dibunuh.

"Kalau keluarga harimau ada yang diganggu manusia, apa lagi ada yang menjadi korban, maka harimau menaruh dendam. Itu semua fakta yang sering temui di lapangan. Hanya memang secara ilmiahnya kami tidak bisa menjelaskannya," kata Haryono.

Terkait masalah harimau Bonita, hasil pemeriksaan memastikan harimau liar ini sudah pernah beranak. Hanya saja kini tidak jelas kemana anak Bonita. Haryono mengatakan bisa saja Bonita dendan kepada manusia karena kehilangan anaknya.

"Bisa jadi. Harimau akan marah kalau dia kehilangan keluarganya," kata Haryono.

Kepala Bidang Wilayah I BBKSDA Riau, Mulyo Hutomo menambahkan, harimau yang keluarganya diganggu akan mencari pelakunya. Dia mencontohkan, bila anak harimau diambil masyarakat saat ditinggal induknya. Begitu induknya kembali tidak menemukan anaknya, maka sang induk akan mencarinya.

Jika anak harimau dibawa ke perkampungan, maka harimau akan mendatangi kampung tersebut untuk mencari anaknya.

"Harimau itu akan datang untuk meminta anaknya agar dilepaskan. Jika tidak, dia akan dendam pada yang mengambilnya," kata Hutomo.

Hutomo menyebutkan, sebenarnya sejak dulu masyarakat bisa hidup berdampingan dengan satwa liar termasuk harimau. Ini bisa dibuktikan berbagai wilayah di Sumatera yang selalu menempatan posisi harimau sebagai penguasa. Di Riau, harimau dijuluki Datuk.

"Dulu kearifan lokal masyarakat kita selalu berbagi wilayah. Pemangku adat akan memberikan batasan mana wilayah yang boleh untuk digarap mana yang tidak. Yang tidak boleh itu, karena di sana ada harimau. Itulah kearifan lokal," kata Hutomo.

"Semestinya kearifan lokal itu harus tetap terjaga agar manusia dan satwa tetap bisa hidup berdampingan tanpa konflik. Banyak keraifan lokal lainnya, misalkan tidak boleh berbuat yang aneh-aneh dalam hutan, jangan berlagak sombong dalam hutan, karena di hutan ada penguasa yang berbeda," kata Hutomo. (rdk)


BERITA LAINNYA
Gubri Serahkan Remisi di Lapas IIA Pekanbaru
Jumat, 17 Agustus 2018 | 14:59
BERIKAN KOMENTAR
Top