• Home
  • Olahraga
  • Begini Detik-detik Upaya Penyelamatan Choirul Huda Oleh Dokter

Begini Detik-detik Upaya Penyelamatan Choirul Huda Oleh Dokter

Senin, 16 Oktober 2017 | 10:53
foto kompas
RIAUGREEN.COM - Kiper legendaris Persela Lamongan, Choirul Huda mengembuskan napas terakhirnya saat membela Laskar Joko Tingkir menjamu Semen Padang, di Stadion Surajaya, Ahad (15/10) petang WIB. 

Kiper senior ini bertabrakan dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues, dan penyerang Semen Padang, Marcel Sacramento. Choirul Huda sempat meringis, tak lama kemudian jatuh pingsan sehingga langsung dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan ambulans.

Menurut dokter Yudistiro Andri Nugroho, Spesialis Anastesi yang menangani Choirul Huda meyampaikan apa yang dialami oleh almarhum. Menurutnya, Choirul Huda mengalami trauma benturan dengan sesama pemain. Sehingga, kata Yudistiro, yang bersangkutan mengalami kesulitan bernapas dan henti jantung.

"Sesuai analisis, awal benturan ada di dada dan rahang bawah. Ada kemungkinan trauma dada, trauma kepala dan trauma leher," jelas Kepala unit Instalasi Gawat Darurat RSUD dr Soegiri Lamongan, seperti dikutip dari laman resmi Persela Lamongan, Ahad (15/10).

Lanjut Yudistiro, di dalam tulang leher itu ada sumsum tulang yang menghubungkan batang otak. Di batang otak itu ada pusat-pusat semua organ vital, pusat denyut jantung dan napas. Maka kemungkinan, hal itu menyebabkan Choirul Huda henti jantung dan henti napas, itu analisis awal pihaknya. Karena, masih kata Yudistiro, tim tidak sempat melakukan pemindaian, karena Huda tidak layak diberangkatkan dengan kondisi kritis seperti itu.

"Kita tidak bisa mengkondisikan untuk dibawa ke radiologi. Kita lebih menangani kondisi awal," tambahnya.

Sebenarnya, tim medis di stadion sudah melakukam penanganan pembebasan jalan napas dengan bantuan napas. Kemudian juga dirujuk ke UGD RSUD dr Soegiri. Bahkan di dalam ambulans juga ditangani secara medis untuk bantuan napas maupun untuk penanganan henti jantung. Sesampainya di UGD segera ditangani. Kemudian, kata Yudistiro, pihaknya melakukan pemasangan alat bantu napas yang sifatnya permanen.

Tidak hanya itu, pihaknya juga melakukan inkubasi dengan memasang alat semacam pipa napas. Itu yang menjamin oksigen bisa 100 persen masuk ke paru-paru. Dengan itu diharapkan bisa melakukan pompa otak sama jantung. Sempat ada respons dari Choirul Huda dengan adanya gambaran kulit memerah, tetapi kondisnya tetap semakin menurun.

"Pompa jantung dan otak itu dilakukan selama 1 jam tidak ada respons. Tidak ada reflek tanda-tanda kehidupan normal. Kemudian kita menyatakan meninggal pada pukul 16.45 WIB. Kita sudah mati-matian untuk mengembalikan fungsi vital tubuh Choirul Huda," tutup Yudistiro.

Source: repulika.co.id

BERITA LAINNYA
Xavi Hernandez Hadiri Acara Akikah Temannya
Jumat, 20 Oktober 2017 | 00:16
Paul Pogba Ucapkan Duka Cita untuk Choirul Huda
Senin, 16 Oktober 2017 | 11:33
Egy Masuk Daftar 60 Talenta Muda Terbaik Dunia
Sabtu, 07 Oktober 2017 | 12:35
Katalunya Merdeka, Barcelona Main di Inggris?
Selasa, 03 Oktober 2017 | 12:12
Buset! Timnas Indonesia U-19 Harus Menang 8 Gol?
Rabu, 13 September 2017 | 12:40
PSSI Tetap Pertahankan Luis Milla, Ini Alasannya!
Senin, 28 Agustus 2017 | 14:49
Ezra Walian Diburu 3 Klub Elite Belanda
Jumat, 18 Agustus 2017 | 14:13
Ronaldo: Neymar Buat Kesalahan Besar
Sabtu, 05 Agustus 2017 | 13:46
BERIKAN KOMENTAR
Top