• Home
  • Nasional
  • Hari Santri, Ini 7 Pahlawan Nasional Berlatar Belakang Santri

Hari Santri, Ini 7 Pahlawan Nasional Berlatar Belakang Santri

Rabu, 21 Oktober 2020 | 12:32
detikcom
22 Oktober Hari Santri, Ini 7 Pahlawan Nasional Berlatar Belakang Santri
RIAUGREEN.COM - Pesantren punya sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat dan perjuangan Indonesia. Jejak pesantren dan perjuangan Indonesia inilah yang menghadirkan Hari Santri Nasional 22 Oktober.

Beberapa sosok pahlawan yang banyak dikenal masyarakat ternyata juga tidak lepas dari pendidikan pesantren. Di pesantren inilah para pahlawan mendapat berbagai ilmu dan mengambil sikap terkait perlakuan penjajah.

Berikut jejak langkah pesantren dalam kehidupan Pahlawan Nasional:

1. KH Hasyim Asyari
Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bergelar Rais Akbar ini pernah nyantri di Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, dan Pesantren Trenggilis di Semarang.

Selain itu, sosok pencetus Resolusi Jihad ini juga sempat menimba ilmu di Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo yang diasuh Kyai Ya'qub. KH Hasyim Asyari ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964.

2. KH Ahmad Dahlan
Dikutip dari situs Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan juga tak lepas dari pendidikan dan lingkungan pesantren sejak kecil. Pesantren menjadi tempat pendiri Muhammadiyah ini menimba ilmu agama dan bahasa Arab.

KH Ahmad Dahlan yang lahir dengan nama Muhammad Darwis menunaikan haji pada tahun 1883 ketika berusia 15 tahun. Di Makkah, KH Ahmad Dahlan melanjutkan belajar agama dan bahasa Arab selama lima tahun belum kembali ke Indonesia.

3. KH Zainal Arifin
Sedikitnya ada dua pesantren tempat Pahlawan Nasional yang lahir dengan nama Lora Zainal ini menuntut ilmu. Keduanya adalah pondok pesantren Karay Sumenep dan Syaikhana KH. Muhammad Kholil Bangkalan.

Semasa hidup KH Zainal Arifin membentuk dan menjadi pemimpin Hizbullah, serta sempat menjadi Wakil Perdana Menteri Indonesia periode 30 Juli 1953-12 Agustus 1955. KH Zainal Arifin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 4 Maret 1963.

4. KH Wahid Hasyim
KH Wahid Hasyim adalah putra dari KH Hasyim Asy'ari. Dia juga merupakan ayah dari Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang memimpin Indonesia pada 20 Oktober 1999-23 Juli 2001.

Perjalanan KH Wahid Hasyim tak lepas dari pesantren. KH Wahid Hasyim menuntut ilmu di pondok pesantren Siwalan, Panji dan Lirboyo, Kediri.

Setelah ilmunya matang, KH Wahid Hasyim ikut mengelola pesantren Tebuireng dan menjadi pelopor Madrasah Nidzmiyah. Prinsip pendidikan ini adalah pembagian pembelajaran dengan 70 persen ilmu umum dan 30 persen agama.

5. KH Zainal Mustafa
Simbol perjuangan dan keberanian masyarakat Jawa Barat ini menimba ilmu sedikitnya di empat pesantren. Pondok pesantren tersebut adalah Gunung Pari, Cilenga Leuwisari, Sukaraja Garut, Sukamiskin Bandung dan Jamanis Rajapolah.

KH Zainal Mustafa adalah Wakil Rais Syuriyah NU dan penggagas pemberontakan pada penjajah di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Sosok KH Zainal Mustafa ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1972.

6. Pangeran Diponegoro
Sejarawan Peter Carey dalam bukunya Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 menyebutkan, Pangeran Diponegoro tak lepas dari pendidikan pesantren. Salah satunya Pondok Pesantren Gebang Tinanar, Ponorogo asuhan Kiai Hasan Besari.

Semasa hidupnya Pangeran Diponegoro memimpin Perang Jawa yang terjadi pada 1825-1830. Penetapan status Pangeran Diponegoro sebagai Pahlawan Nasional tercantum dalam Keppres No.87/TK/1973.

7. KH Noer Ali
Dikutip dari situs indonesia.go.id, gelar Pahlawan Nasional pada KH Noer Ali ditetapkan pada 10 November 2006. Nama KH Noer Ali sangat dikenal masyarakat Bekasi sebagai simbol perjuangan dan keberanian.

KH Noer Ali sempat menimba ilmu pada Guru Maksum di Kampung Bulak, Guru Mughni, dan pesantren pada Guru KH Marzuki. Selama menuntut ilmu itulah KH Noer Ali melihat tindakan sewenang-wenang penjajah dan maksiat di lingkungan sekitar.(detik.com)