• Home
  • Nasional
  • Peneliti Yakin Harimau Jawa Masih Hidup, Ini Bukti Fotonya

Peneliti Yakin Harimau Jawa Masih Hidup, Ini Bukti Fotonya

Kamis, 13 Agustus 2020 | 12:47
Dok Peduli Karnivor Jawa
Foto yang diklaim sebagai harimau Jawa
RIAUGREEN.COM - Harimau Jawa atau Panthera tigris sondaica dinyatakan sudah punah. Namun peneliti yakin bahwa sang loreng masih berjalan di tanah Jawa. Peneliti ini menyodorkan bukti fotonya.

Peneliti itu adalah Direktur Peduli Karnivor Jawa (PKJ), Didik Raharyono. Dia mendapatkan foto harimau Jawa dari seorang pemburu yang tidak mau disebutkan identitasnya.

"Foto itu berasal dari warga lokal. Mereka punya komunitas pemburu babi hutan, komunitas ini agak tertutup, dia tidak mau disebutkan namanya," kata Didik Raharyono kepada detikcom, Kamis (13/8/2020).

Foto itu diambil pada September 2018. Pada 3 Desember 2018, Didik mendatangi lokasi tempat ditemukannya harimau. Dia tidak langsung mempublikasikan foto itu.

"Saya sudah klarifikasi lokasi, fotonya, kejadiannya seperti apa, siapa saja saksinya, bagaimana kronologiya, kita lihat background tanahnya," kata dia.

Didik Raharyono juga sempat menyampaikan hasil temuannya ini pada forum webinar Global Tiger Day 2020 yang digelar PP Kagama Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana, dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, pada 9 Agustus kemarin. Dia hanya menyebutkan lokasi penampakan harimau Jawa ada di wilayah administrasi Ganjar Pranowo, tanpa merinci lokasi spesifik lebih lanjut.

"Saya hanya bilang di Jawa Tengah, karena teman-teman nanti pada sensitif, khawatir nanti ada orang berbondong-bondong ke lokasi," kata Didik yang merupakan alumni Fakultas Biologi UGM ini.

Dia menyampaikan, pemotret harimau Jawa itu juga mengaku pernah menembak harimau Jawa yang masih anakan pada masa 2015. Dia menjual kumisnya sebagai jimat menurut kepercayaan orang Jawa.

Lalu, bagaimana publik bisa yakin bahwa itu adalah harimau Jawa? Bisa saja itu merupakan foto harimau Sumatera, bukan?

"Saya bisa meyakinkan publik bahwa itu adalah harimau Jawa, karena saksi melihat tidak hanya saat dia mengambil foto itu, tapi saksi juga melihat pada momen sebelum dia berhasil mengambil foto itu," kata dia.

Dia menepis keraguan bahwa itu bisa saja harimau Sumatera yang dilepas di hutan Jawa, soalnya harimau yang dilepas begitu saja bakal kesulitan beregenerasi. Lagipula, bentuk fisik harimau Jawa dengan harimau Sumatera berbeda.

"Pola loreng wajah harimau Jawa lebih tipis dan jarang dibanding harimau Sumatera," kata Didik.

Harimau Sumatera menurutnya punya loreng di wajah dengan pola yang lebih rapat. Selain itu, moncong harimau Jawa lebih maju ketimbang harimau Sumatera.

"Moncong harimau Sumatera lebih pendek," kata dia.

Cerita di Meru Betiri

Didik juga pernah membantu peliputan Animal Planet pada 2017. Tim Animal Planet berhasil merekam pergerakan di dalam hutan Permisan, Meru Betiri Jawa Timur. Mereka menggunakan kamera pendeteksi suhu (thermal censor) yang diterbangkan menggunakan drone di malam hari.

"Saya yakin itu harimau Jawa. Saya heran, kenapa mereka tidak berani bilang itu sebagai harimau, tapi menyebutnya sebagai mamalia besar," kata dia.

Memang, tim Animal Planet yang dibantunya saat itu tidak spesifik menyebut hewan yang direkamnya itu sebagai harimau Jawa karena tim Animal Planet tidak berhasil bertatap muka langsung dengan sang loreng. Namun demikian, menurut Didik, bentuk dan cara bergerak 'mamalia besar' itu tidak mungkin macan tutul atau kerbau.

"Komunitas drone di Jawa Timur yang sering memantau kucing hutan mengatakan bila itu macan tutul, maka pinggulnya tidak akan sebesar itu. Kalau pinggangnya selebar itu, itu jelas bukan macan tutul," kata Didik.

Sudah dinyatakan punah

Harimau endemik Pulau Jawa, sudah dinyatakan punah. The Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam situs resminya menjelaskan harimau Jawa sudah dinyatakan punah sejak dekade 1970-an. Penyebab kepunahan adalah perburuan, kehilangan hutan sebagai habitat, dan kehilangan mangsa.

Harimau Jawa juga dipastikan punah lewat rapat Convention on International Trade in Endangered Species di Florida, Amerika Serikat, pada 1996.(detik.com)

Loading...
BERITA LAINNYA
Bawaslu Pangandaran Desak Aturan Kampanye Direvisi
Rabu, 23 September 2020 | 15:15
Jadwal Pengiriman Kuota Internet Belajar untuk Siswa
Senin, 21 September 2020 | 13:45
BERIKAN KOMENTAR
Top