• Home
  • Nasional
  • Geger Kasus Pelecehan Seksual, dari Fetish hingga Swinger

Geger Kasus Pelecehan Seksual, dari Fetish hingga Swinger

Selasa, 04 Agustus 2020 | 10:54
cnni
Ilustrasi.
RIAUGREEN.COM -- Dua kasus dugaan pelecehan seksual berkedok riset atau penelitian menjadi perbincangan publik.

Pertama, kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh seseorang mahasiswa Univeristas Airlangga (Unair) Surabaya, Gilang. Ia diketahui memiliki fetish dengan membungkus korbannya menggunakan jarik.

Aksi Gilang ini baru terungkap setelah seorang korban berinisial MF mengungkapkannya ke publik.

MF belakangan baru menyadari itu pelecehan, sebab awalnya Gilang meminta tolong bantuan untuk riset akademis. Selanjutnya, keduanya pun berkomunikasi lewat Whatsapp.

Gilang lantas menjelaskan bahwa MF diminta untuk membungkus diri dengan lakban dan kain jarik. Gilang mengaku ingin tahu reaksi yang ditimbulkan dari penelitiannya.

Sempat menolak, namun korban akhirnya memenuhi keinganan Gilang. Dengan bantuan seorang kawannya, tubuh MF kemudian dililit lakban, hingga mata dan mulutnya tertutup. Setelahnya, badannya lalu dibungkus jarik, rapat-rapat.

Proses pembungkusan yang didokumentasikan itu berlangsung selama tiga jam. Foto dan videonya kemudian dikirimkan kepada Gilang dengan dalih laporan penelitian. Bukannya, berterima kasih atau meminta maaf, Gilang justru mengirimkan pesan bernada godaan kepada MF.

Bahkan, Gilang meminta MF mengulangi adegannya dari awal karena terjadi kesalahan. Namun, MF keberatan.

Terkait kasus ini, Dekanat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair menggelar rapat untuk melakukan klarifikasi, Senin (3/8). Rpaat itu dilakukan bersama pihak keluarga Gilang, yakni ibu dan kakaknya. Sementara untuk Gilang, sampai saat ini belum diketahui keberadaannya dan tidak dapat dihubungi.

Sejauh ini, Polda Jatim juga masih terus melakukan penyelidikan. Kepolisian menduga hingga saat ini ada 15 orang yang menjadi korban Gilang.

"Kami sudah melakukan kolaborasi dengan Unair, dengan posko pengaduan ini, ada sekitar 15 orang yang sudah mengadu," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko di Mapolda Jatim (3/8).

Kata Truno, pihaknya juga mengimbau kepada korban lainnya untuk segera melapor. Sebab, lanjutnya, hal itu diperlukan untuk proses pengusutan kasus.

Selain fetish kain jarik, kasus kedua, melibatkan seorang dosen perguruan tinggi di Yogyakarta, berinisial BA. Modus yang digunakan yakni dengan kedok membuat penelitian tentang swinger atau hubungan seks bertukar pasangan.

Korban BA bernama Illian Deta Arta Sari angkat suara melalui akun Facebooknya. Dia mengungkapkan bahwa BA langsung mengontak dirinya ihwal penelitian yang akan dilakukan.

Mulanya, kata Illian, BA bertanya terkait pengalamannya di ICW, kuliah di luar negeri hingga soal metodologi riset dan seputar akademis.

Sebelum membahas soal penelitian, BA lebih dulu meminta korban untuk menjaga rahasia. Permintaan itu dipenuhi Illian berbekal prasangka baik untuk sebuah penelitian.

Diungkapkan Illian, BA mengaku sudah meminta istrinya untuk membantu riset. Namun, sang istri menolaknya.

Hingga akhirnya pada Minggu (2/8), Illian dan dua korban lainnya bertemu BA di restoran sebuah hotel di Tangerang untuk mendengar penjelasan pelaku.

BA berdalih perilaku tidak menyenangkannya tersebut dimaksudkan untuk sebuah penelitian, membuat jurnal atau buku. Namun, alasan itu dibantah oleh Illian dan rekannya sesama korban.

Dalam pertemuan itu, Illian juga menyodorkan sekitar 50 nama korban beserta modus pendekatan pelaku seperti istrinya yang suka menyiksa, cerita krisis orang tuanya, pernikahan tak punya akan, hingga dalih konsultasi psikologi.

Lebih lanjut, Illian dan dua rekannya pun meminta BA untuk membuat video berisi permohonan maaf terbuka. Dalam pertemuan itu juga dosen 'swinger' mengunggah video ke media sosial miliknya. Namun, pada pukul 22.00, BA menghapus semua akun medsosnya

Meski demikian, video pengakuan BA itu telah beredar di media sosial. Dalam video yang diunggah akun @bamsbulaksumur pada Sabtu (1/8) itu, BA mengaku cerita swinger yang ia curhatkan pada korban sebenarnya adalah kebohongan yang ia buat berdasarkan film.

"Dan sekali lagi saya memohon maaf atas kesalahan saya ini dan saya meminta teman-teman yang pernah saya ajak diskusi memberikan maaf kepada saya. Terimakasih atas perhatiannya ya teman-teman dan saya mohon maaf semuanya ya atas kekhilafan saya ini" katanya.(CNNI)

Loading...
BERITA LAINNYA
37 Pegawai KPK Mundur Sepanjang 2020
Jumat, 25 September 2020 | 15:00
Bawaslu Pangandaran Desak Aturan Kampanye Direvisi
Rabu, 23 September 2020 | 15:15
BERIKAN KOMENTAR
Top