Pimpinan MPR: Satu Nyawa Sangat Berharga

Selasa, 07 Juli 2020 | 12:15
Dok. MPR RI
RIAUGREEN.COM - Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid ikut menyambut kedatangan Ety binti Toyyib Anwar, Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Majalengka di Bandara Soekarno Hatta. Ety yang dipenjara sejak 2002 atas tuduhan meracuni majikan, bebas dari ancaman hukuman mati di Arab Saudi.

"Alhamdulillah di masa pandemi COVID-19 yang memakan banyak korban meninggal dunia, tapi ada satu jiwa yang bisa kita selamatkan," ujar Jazilul dalam keterangannya, Selasa (7/7/2020).

"Satu nyawa warga negara Indonesia sangat berharga. Menyelamatkan satu jiwa warga negara Indonesia sama seperti menyelamatkan kita semua. Itulah inti kemanusiaan," imbuhnya.

Hal itu diucapkan Jazilul Fawaid usai bertemu dengan Ety di Ruang VIP Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin sore (6/7). Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziah dan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdani ikut dalam rombongan tersebut.

Ety binti Toyyib bisa bebas dari hukuman mati setelah Pemerintah Indonesia dengan dukungan dari berbagai kalangan, termasuk Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan PKB, membayarkan diyat (uang darah) yang diminta keluarga majikan.

"Ini hukum di Arab Saudi. Qisas itu hukum nyawa dengan nyawa. Tapi bisa dilakukan dengan membayar diyat, pihak keluarga yang dibunuh memberikan pemaafan," jelas Jazilul yang akrab disapa Gus Jazil.

Gus Jazil mengungkapkan semula ahli waris majikanya meminta diyat yang tinggi sekali, sebesar 30 juta real atau Rp 107 miliar agar diampuni dan tidak dieksekusi. Tetapi dengan berbagai pendekatan akhirnya ahli waris bersedia dengan diyat sebesar Rp 15,2 miliar.

Kata dia, atas inisiator dari teman-teman PKB dengan LAZISNU sejak dua tahun lalu, kemudian mengumpulkan dana untuk membayar diyat untuk membebaskan Ety bnti Toyib dari ancaman hukuman mati. Kasus Ety sendiri terjadi sejak 2001 dan ia sudah menjalani masa penahanan selama 19 tahun.

"Karena itu kami dari Pimpinan MPR selalu mengajak untuk mengedepankan kemanusiaan dan kegotongroyongan di semua situasi kepada siapa pun. Apalagi ini adalah pejuang devisa yang bekerja di luar negeri," ujarnya

"Ibu Ety bekerja hanya 1 tahun 8 bulan, tapi dipenjara 19 tahun. Ini tidak boleh terulang lagi kepada warga kita, saudara kita yang berjuang di luar negeri tapi kemudian terkena kasus," imbuh Koordinator Nasional Nusantara Mengaji ini.

Menurut Wakil Ketua Umum DPP PKB ini, masih ada PMI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi.

"Tapi pesannya adalah bahwa siapapun dan apapun atas nama kemanusiaan tidak boleh ada warga kita yang kemudian dihukum pancung atau dihukum mati untuk kasus yang memang belum clear seperti Ibu Ety ini," katanya.

Sementara itu Ety Binti Toyyib mengucapkan rasa syukur setelah bebas dari hukuman dan kembali ke Tanah Air.

"Alhamdulillah bisa bebas dari hukuman. Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan semuanya. Mudah-mudahan ada hikmahnya untuk semua. Saya cuma bisa berdoa," tuturnya.

Ia mengaku sangat senang dan bahagia bisa kembali ke Indonesia. Selama menjalani hidup dipenjara 19 tahun, Ety Binti Toyyib menghafal Alquran, selain melakukan pekerjaan lainnya. Ia juga mengaku tidak ingin kembali lagi menjadi PMI.

"Ya tidaklah, sudah tua begini. Sudah dipenjara. Kapok," ujarnya.

Ety mengaku tidak merasa melakukan apa yang dituduhkan meracuni majikan.

"Majikan saya itu pergi ke Jeddah naik mobil sendiri. Paginya sarapan bersama istrinya. Malamnya makan di restoran. Saya nggak merasa bersalah. Sampai di pengadilan saya ditanya-tanya dan akhirnya dihukum mati. Saya tetap sabar aja. Biar nanti Allah yang menjawab itu semua," ujarnya.(detik.com)

Loading...
BERITA LAINNYA
Ngabalin: Jangan-jangan Perempatan Dibilang Salib
Selasa, 11 Agustus 2020 | 12:04
BERIKAN KOMENTAR
Top