• Home
  • Nasional
  • Viral Ningsih Tinampi Salahkan Korban Perkosaan, Komnas Perempuan: Kemunduran

Viral Ningsih Tinampi Salahkan Korban Perkosaan, Komnas Perempuan: Kemunduran

Rabu, 27 November 2019 | 13:59
detikcom
Ningsih Tinampi
JAKARTA, RIAUGREEN.COM - Video seorang perempuan yang meminta pelaku pemerkosaan tidak disalahkan dan justru menyalahkan korban pemerkosaan viral di media sosial. Pandangan demikian dinilai sebagai suatu kemunduran.

Perempuan di video viral itu adalah pengobat alternatif asal Pasuruan bernama Ningsih Tinampi atau Bu Ning. Dalam potongan video itu, Ningsih tampak bicara kepada seorang perempuan berbaju kuning yang merupakan 'pasiennya'. Praktik pengobatan ini disaksikan banyak orang di ruangan.

Orang diperkosa itu jangan menyalahkan orang yang merkosa. Bapak ibu punya anak-anak perempuan, orang yang merkosa, jangan menyalahkan orang yang merkosa.

Karena apa? Orang yang memperkosa itu nafsunya datangnya dari orang yang diperkosa. Jadi semua itu salahe wong'e (salah orangnya), salahe wedhok'e (salah perempuannya).

Dia pakai baju yang minim minim dan dia selalu genit-genit di depan orang jadi itu yang membuat munculnya pemerkosaan. Jadi pemerkosaan bukan berarti orang yang merkosa sing salah (yang salah). Tidak. nek bagi aku, sing tak salahno sing diperkosa. dipamer-pamerno yo ora? (yang saya salahkan yang diperkosa, dipamer-pamerin)

Potongan video itu viral di Twitter dan banyak yang mempertanyakan pandangan Bu Ning itu. Apalagi, perkataan Bu Ning disampaikan di depan orang banyak dan direkam.

Saat ditelusuri, potongan video itu berasal dari salah satu video di akun Youtube Ningsih Tinampi berjudul 'BAHAYA BENCI DAN IRI HATI "DUKUN SANTET NGAWUR"'. Dalam video itu, Ningsih sebenarnya sedang bicara dengan sosok yang merasuki perempuan berbaju kuning.

Di bagian awal, sebenarnya Ningsih bertanya bagaimana sosok yang merasuki itu mati. Lalu dijawab bahwa mati bunuh diri usai diperkosa banyak pria. Setelah itu barulah Ningsih bicara tentang 'jangan menyalahkan orang yang merkosa'.

Pandangan 'menyalahkan korban perkosaan' bentuk kemunduran

Komisioner Komnas Perempuan, Adriana Venny, menilai pandangan pihak-pihak yang masih menyalahkan korban dalam pemerkosaan merupakan suatu kemunduran. Dia merujuk pada Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita (Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women-CEDAW)

"Ya itu merupakan kemunduran, karena sebelum Konvensi CEDAW diratifikasi tahun 1984, kekerasan seksual tidak dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan," kata Adriana saat dihubungi, Rabu (27/11/2019).

"Konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan menegaskan agar semua negara melaksanakan instrumen HAM perempuan," sambungnya.

Adriana mengingatkan bahwa perkosaan merupakan tindak pidana yang hukumannya berat. Dampak pemerkosaan sangat besar apalagi bila terjadi pada korban yang masih di bawah umur.

"Apalagi jika korbannya masih di bawah umur. Karena dampaknya bisa seumur hidup dan mempengaruhi seluruh keluarga. Bayangkan jika kita sebagai ibu yang anak perempuannya diperkosa, lalu pelaku bebas berkeliaran tidak dapat sanksi, pasti ibunya juga ikut menderita," ungkap Adriana.

Oleh sebab itu, dia mendorong agar RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual harus segera disahkan. "Untuk memberikan efek jera bagi pelaku dan memberikan keadilan bagi korban," lanjutnya,

Pandangan bahwa pemerkosaan terjadi karena pakaian korban juga salah kaprah. Adriana meluruskan hal itu.

"Di Indonesia itu bukan karena baju, ada bayi atau nenek diperkosa," ujar Adriana.(detik.com)

Loading...
BERITA LAINNYA
Kronologi Ledakan Granat Asap di Monas
Selasa, 03 Desember 2019 | 11:15
BERIKAN KOMENTAR
Top