• Home
  • Nasional
  • Irjen. Pol. Boy Rafli Amar, M.H di Unpad, Kapolri Menguji dengan Teori Pakar
Jadi Penguji Sidang Dokter

Irjen. Pol. Boy Rafli Amar, M.H di Unpad, Kapolri Menguji dengan Teori Pakar

Rabu, 14 Agustus 2019 | 19:47
tbn
RIAUGREEN.COM - Kapolri Jenderal Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., memberikan pertanyaan disertai teori pakar kepada Irjen Pol. Drs. Boy Rafli Amar, M.H. dalam sidang disertasi untuk meraih gelar Doktor Bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran. Sidang Doktor ini digelar di Bale Sawala, Kampus Unpad Jatinangor, Sumedang, Rabu, 14 Agustus 2019, Rabu (04/08/19).

Dalam sidang ini, Kapolri Jenderal Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. bersama Plt. Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE. dan delapan penguji lainnya yaitu: Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S.Sos.,SH.,M.Si.,Dr. Dadang Sugiana, M.Si., Prof. Deddy Mulyana, MA.,Ph.D., Dr. Edwin Rizal, M.Si., Dr. Atwar Bajari, M.Si., Dr. Ninis Agustini Damayani, M.Lib., Dr. Siti Karlinah, M.Si., Prof.Dr.Ir. Mahfud Arifin, M.S.‎(men) menguji disertasi Irjen. Pol. Drs. Boy Rafli Amar, M.H. yang berjudul ‎Integrasi Manajemen Media Dalam Strategi Humas Polri Sebagai Aktualisasi Promoter.

"Kapasitas saya di sini bukan sebagai Kapolri, tetapi dalam kapasitas akademik, jadi Pak Boy jangan takut menjawab apa saja," tegas Jenderal Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian.

Guru Besar STIK-PTIK itu menyampaikan lima pertanyaan terkait disertasi yang disampaikan kepada Irjen. Pol. Drs. Boy Rafli Amar, M.H. tentang mana yang lebih penting dalam membangun citra Polri, manajemen media atau reformasi internal Polri.

"Polri perlu membangun opini publik karena dukungan publik menjadi hal yang penting untuk negara di era demokrasi karena kekuasaan di tangan rakyat. Semua elemen yang ingin survive harus dapat dukungan dan restu publik," tutur mantan Kepala BNPT itu.

Dalam sidang disertasi ini, mantan Kapolda Metro Jaya itu berperan sebagai penyanggah disertasi dengan judul Integrasi Manajemen Media Dalam Strategi Humas Polri Sebagai Aktualisasi Promoter. Setiap pertanyaan Kapolri disertai dengan narasi yang panjang disertai teori pakar.

"Apakah saat ini menurut saudara, kita sedang alami demokrasi liberal atau demokrasi Pancasila‎," tanya Kapolri.

Pertanyaan itu diawali dengan latar belakang situasi Indonesia selama 10 tahun terakhir di tengah hingar bingar dunia media sosial.

"(Pertanyaan) ini menentukan publick support kita mau all out atau setengah-setengah," jelas Kapolri.
Kapolri kembali melontarkan pertanyaan menohok.

"‎Seberapa besar manajemen media dalam membentuk opini publik. Jor-joran me-menej media hingga opini publik terbentuk lalu imej Polri jadi baik atau lebih penting reformasi internal Polri supaya lebih baik, mana yang lebih penting?. Penelitian Kompas sempat menyampaikan bahwa perbaikan Polri karena manajemen medianya, reformasi birokrasinya belum berubah atau belum banyak berubah," tanya Kapolri.

Sementara itu, dalam paparan disertasinya Irjen Pol. Drs. Boy Rafli Amar, M.H. menyampaikan, semenjak Kepala Kepolisian RI menjadikan manajemen media sebagai program prioritas Polri. Manajamen media merupakan upaya Polri dalam mengelola opini publik untuk menciptakan kepercayaan publik pada institusi Polri dan sebagai jalan untuk mempercepat aktualisasi promoter.

Manajemen media Polri ini dinilai penting di tengah kepercayaan publik pada Polri yang sempat menurun. Salah satunya, survei Transparansi Internasional Indonesia (TPI) menempatkan Polri sebagai lembaga terkorup bersama DPR RI pada 2014. Kemudian Litbang Survey Kompas pada 2014 yang menyebutkan tingkat kepuasan publik pada Polri hanya 46,7 persen.

"Penelitian ini memberikan saran kepada Polri untuk menjadikan setiap anggota menjadi agen kehumasan dalam proses interaksi polisi dan masyarakat. Kemudian, dapat berperan menjadi news maker dalam menampilkan kinerja positif di mata publik yang didukung dengan semangat profesionalisme dan bersikap simpatik serta humanis," ungkap Irjen. Pol. Drs. Boy Rafli Amar, M.H.

Irjen. Pol. Drs. Boy Rafli Amar, M.H. itu menjelaskan, Promoter merupakan akronim dari Profesional, Modern, dan Terpercaya. Tiga hal itu yang disampaikan kepada publik secara berkelanjutan agar mendapatkan kepercayaan publik.

"Semakin positif pengalaman publik dengan polisi, semakin positif citra publik. Banyak kritik terhadap Polri karena banyak harapan polisi jadi manusia sempurna, pahlawan yang siap menjawab masalah," pungkas mantan Karo Penmas Divhumas Polri itu dalam pemaparannya.

Dalam kesempatan itu, turut hadir mendampingi Kapolri yaitu: Kadivhumas Polri Irjen Pol. Mohammmad Iqbal, S.I.K., M.H. dan Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Rudy Sufahriadi.(tbn)

Loading...
BERITA LAINNYA
Resmi Berlaku, UU KPK Bernomor 19/2019
Jumat, 18 Oktober 2019 | 10:15
Hingga Kemarin Jumlah Titik Panas Karhutla 1.547
Selasa, 15 Oktober 2019 | 11:57
BERIKAN KOMENTAR
Top