Cahaya Bohlam Kado Satu Dekade Meranti

Laporan: Wira Saputra
Senin, 24 Desember 2018 | 22:36
Ari Iswanto didampingi sang ayah Hamzah memerkan pijar lampu tenaga surya hemat energy (LTSHE)

Ari Iswanto (27) tertawa lebar. Memamerkan deretan giginya di sela pijar light emitting diode atau biasa disingkat dengan LED yang ia genggam di tangan kiri. Lampu tersebut dinamai bohlam, lampu tenaga surya hemat energy (LTSHE). 

Ari adalah warga Dusun III, Desa Bathin Suir, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti. Berkat lambu bantuan pemerintah yang dikucurkan pada 11 September 2018 lalu, kini rumah Ari Iswanto terang benderang.

Karena tidak lagi menggunakan pelita berbahan bakar solar, rasa puas dan syukur tergambar jelas di wajahnya. Hal yang sama juga tampak terpancar dari wajah sang ayah Hamzah (56), dan ibunya Nila (50).

Se-sekali menoleh ke arah sumber cahaya sedikit cendrung berwarna biru, dan keputih-putihan. Ketika itu Ari mengaku, jauh sebelum ini ia telah memiliki genset. Namun karena mahalnya harga bahan bakar solar, membuatnya lebih betah menggunakan pelita. 

"Sejak kampung ini ade, kamidah terbiase memakai lampupelite minyak solar sebagai sumber penerangan dalamumah. Jarang lagi pakai genset karena solar mahal. Makenyesebelum ade lampu ini (bohlam), kami lebih senang pakai pelite," ujar Ari berbicara dengan logat Melayu kental terdengar pelat, Senin (10/11) malam.

Berprofesi sebagai guru bantu, dengan pendapatan tidak kurang dari Rp300.000 per-bulan melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Ari tidak bisa menepis jika saat ini ia adalah tulang tunggung keluarga, setelah enam orang kakaknya berumah tangga. 

"Saye ni adik paling kecil dari tujuh kakak kandung. Semuesudah berumah tangga, tinggal saye sendiri yang menjaga kedua orang tue dan penuhi segale kebutuhan rumah. Walaupun terkadang sempat kembang kempis jugecari penghasilan tambahan," ujarnya. 

Terlebih di desa itu perliter minyak solar, Rp11.000. Jauh lebih mahal dari harga resmi yang beredar di Kota Selatpanjang Rp5.150 per-liter. Sedangkan untuk minyak tanah sejak beberapa tahun terakhir tidak beredar lagi di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Derita itu dirasakan dampak belum terjangkau jaringan transmisi PLN. Untuk itu, Ari memastikan harapan warga desa menikmati listrik PLN hingga saat ini masih angan-angan belaka.  

Dengan adanya fasilitas panel surya serta lampu super hebat seperti bohlam yang disediakan pemerintah, rasa syukur lebih dari sekali ia dan keluarga lontarkan. Hal itu diingat setelah puluhan tahun lamanya, bahkan sejak NKRI lahir, kampungnya ibarat terlupakan.

Derasnya arus pembangunan, yang banyak terpusat di kota, sehingga belum dirasakan di Bhatin Suir. "Menurut kami ini berkah. Sejak kampung iniade, baru ini penerangan listrik bisa kami nikmati," kata Ari.

"Bantuan lampu tenaga surya ini, seolah macam pertandekalau desa kami masih dianggap bagian dari NKRI," tambahnya lagi. 

Buat Ari, sebagai salah seorang guru bantu di SD Negeri 10 Bathin Suir, lampu itu pun sangat berarti. Dia berharap lampu bohlam dapat dimanfaatkan oleh murid-muridnya untuk belajar di rumah kala fajar terbenam. 

*Berharap Lebih Baik

Ari Iswanto merupakan satu di antara 82 warga Desa Bathin Suir yang mendapatkan bantuan panel LTSHE dari pemerintah pada tahun 2018 ini. Selain warga setempat, fasilitas umum seperti rumah ibadah juga kebagian bantuan lampu tersebut. 

Kepala Desa Bathin Suir, Tarmizi mengaku bersyukur dengan bantuan lampu LTSHE yang didapat oleh warga Dusun III. Menurut Tarmizi, sudah puluhan tahun warga di dusun tersebut berharap bisa menikmati cahaya lampu. 

Sebagai kepala desa, ia telah berusaha mengajukan bantuan listrik desa ke Pemkab Kepulauan Meranti. Namun, setelah usulan itu dipenuhi oleh Pemkab Kepulauan Meranti, jaringan listrik desa tersebut tak mampu menjangkau seluruh wilayah Desa Bathin Suir. 

"Saya juga sangat merasa sedih dengan kondisi Dusun III, kondisi alam menjadi kendala listrik desa untuk menjangkau dusun tersebut. Untungnya ada program bantuan pemerintah berupa panel LTSHE yang bisa menjangkau warga kami tanpa perlu menggunakan jaringan," ujarnya.

Kendati sebagian warganya telah mendapatkan LTSHE, namun Tarmizi masih berharap lebih baik dari itu. Seperti berdirinya transmisi listrik dari listrik dari PLN untuk menjangkau hingga ke sudut desanya.

Baginya, LTSHE dan listrik desa belum bisa memenuhi seluruh harapan mayarakat di desanya. Alasan Tarmizi, listrik desa beroperasi hanya dari pukul 17.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB.

Artinya, warga desa tidak bisa menikmati listrik di siang hari. Penggunaan LTSHE juga sangat terbatas, hanya untuk penerangan dan mengisi daya baterai telpon genggam saja. "Jika jaringan listrik PLN masuk di desa kami, warga kan bisa mengembangkan usahanya. Anak-anak juga bisa menikmati informasi melalui televisi di siang harinya," ujarnya. 

*Elektrifikasi Capaian Prestisius Satu Dekade

Persoalan listrik menjadi fokus utama bagi Pemkab Kepulauan Meranti sejak lepas dari pangkuan kabupaten induk, Bengkalis pada 2008 silam. Pasalnya, saat itu baru 30 persen saja wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti yang menikmati listrik. Warga yang menikmati listrik kala itu itu pun juga masih di wilayah Kecamatan Tebingtinggi saja. 

Sejak 2011 silam, Pemkab Kepulauan Meranti di bawah kepemimpinan Drs H Irwan M.Si mulai membuat terobosan untuk mengatasi persoalan kelistrikan. Program andalan Pemkab Kepulauan Meranti kala itu, yaitu listrik desa. Selain membantu mesin genset berkapasitas 150 kVA sebagai pembangkitnya, Pemkab Kepulauan Meranti juga membangun 55 Kilometer sitkit (Kms). Jaringan tersebut dibangun di desa-desa yang belum tersentuh oleh jaringan listrik PLN. 

Bupati Kepulauan Meranti, Drs H Irwan mengatakan, program tersebut berlangsung hingga tahun 2015. Lima tahun program berjalan, elektrifikasi Kabupaten Kepulauan Meranti meningkat tajam. Kendati demikian, Pemkab Kepulauan Meranti tak berpuas hati. Pemkab Kepulauan Meranti terus berupaya agar seluruh warga yang tak terjangkau oleh listrik desa bisa menikmati penerangan. 

"Ternyata listrik desa juga belum maksimal. Pada 2017 lalu, kami lantas mengajukan panel LTSHE ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral agar harapan warga di pelosok desa bisa menikmati penerangan," ujar Irwan. 

Sejak pertama kali diusulkan hingga 2018 kata Irwan, sudah 592 unit rumah warga pelosok desa yang telah mendapatkan bantuan panel LTSHE dari Kementrian ESDM RI. Ratusan kepala keluarga penerima bantuan LTSHE tersebut merupakan warga yang tak mampu. 

"Hingga saat ini elektrifikasi di Kabupaten Kepulauan Meranti sudah mencapai 77 persen. Ini adalah capaian prestisius Pemkab Kepulauan Meranti selama satu dekade ini," tutur Irwan. 

Selain program listrik desa dan LTSHE, Pemkab Kepulauan Meranti juga mendorong pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk memperluas jaringannya hingga ke pelosok desa. Untuk mempercepat kehadiran PLN di seluruh desa dengan memperkuat program listrik desa. 

"Jaringan yang telah kami bangun sebelumnya bisa digunakan oleh PLN untuk menjangkau seluruh desa. Ini merupakan dukungan Pemkab untuk mempercepat kehadiran PLN di tengah-tengah masyarakat desa," ujarnya.

Secara detail, dari data yang dilansir oleh Bagian Ekonomi, Sumberdaya Alam dan Mineral, Sekretaria Daerah Kabuapaten (Setdakab) Kepulauan Meranti, Selasa (11/12/18) lalu. Sejak 2017, Meranti telah mendapat bantuan dari pemerintah pusat sejumlah 382 unit LTSHE.

Bantuan tersebut disebar kepada kepada sembilan desa di lima kecatan yang berbeda. Desa tersebut diantaranya, Desa Anak Setatah, Kecamatan Rangsang Barat sebanyak 51 unit, dan Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Peisir sebanyak 50 unit.

Sementara di Desa Sungai Tohor Barat, Kecamatan Tebingtinggi Timur, terdapat 29 unit. Sedangkan untuk Kecamatan Merbau tepatnya di Desa Lukit 50 unit, Bumi Asri 21 unit, dan Desa Anak Kamal sebanyak 31 unit. 

Menyusul di Kecamatan Tasik Putri Puyu, tepatnya di Desa Mekar Delima 50 unit, Putri Puyu 50 unit, serta Desa Tanjung Padang 50 unit.  

Berlanjut pada 2018, kembali tersebar di Kecamatan Tebingtinggi Barat, yakni Desa Mengkikip sekira 72 unit, dan Desa Tanjung Peranap sejumlah 56 unit. Sementara data terakhir terdapat Desa Bathin Suir, Kecamatan Tebingtinggi Timur sebanyak 82 unit.

"Untuk 2017 terdapat 382 unit yang kita sebar di lima kecamatan. Sedangkan untuk 2018 terdapat 210 unit berulang diterima oleh tiga kecamatan lainnya," ujar Kepala Bagian Ekonomi, Sumberdaya Alam dan Mineral, Setdakab Kepulauan Meranti Afifuddin, melalui Kasubag Sember Daya Alam, Danu Sasreja. 

Tidak hanya sampai disitu, Pemda Kepulauan Meranti kembali mengajukan permohonan bantuan yang sama kepada pemerintah pusat untuk tahun anggaran 2019 mendatang. Namun kabar secara detail, Danu mengaku belum bisa memastikan berapa desa, kecamatan yang kembali akan mendapatkan bantuan tersebut.

Walaupun demikian, Pemda Kabupaten Kepulauan Meranti tetap optimis jika 2019 mendatang akan kembali memperoleh program LTHSE. 

"Walaupun belum mendapatkan infomasi resmi atas tindaklanjut pengajuan bantuan LTSHE tesebut, kami tetap optimis 2019 mendatang kita kembali menerima lebih banyak dari tahun sebelum-sebelumnya," ujar Danu. 

* Transmisi Listrik Daratan Sumatra Menuju Kepuluan Meranti Rampung 2020

Gayung bersambut, keseriusan Pemkab Kepulauan Meranti dalam mendukung elektrifikasi daerah ditanggapi serius oleh PLN. Pada tahun 2019 mendatang, PLN akan membangun jaringan transmisi interkoneksi bawah laut. Manager PT. PLN (Persero) Rayon Selatpanjang, Jannatul Firdaus mengungkapkan, proyek elektrifikasi tersebut akan tuntas pada 2020 mendatang. 

"Fix landing poin-nya mulai dikerjakan 2019 medatang. Namun rampungnya bisa jadi satu tahun mendatang," ujar Firdaus, Kamis (13/12/18) pagi, di ruang kerjanya.

Menurut dia, jaringan bawah laut ini direncanakan akan menghubungkan pulau sumatera melalui Tanjung Buton, Kabupaten Siak menuju Mengkikip Kepulauan Meranti. Persiapan pembangunan jaringan dipersiapkan sejak awal tahun 2018 lalu. Bahkan menurutnya, posisi gardu induk (GI) berada di Desa Gogok, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Meranti.

Menurut dia, dengan terhubungnya Kepulauan Meranti dengan jaringan listrik Sumatera mengatisipasi terjadinya krisis listrik. Sehingga kebutuhan listrik di Kepuluan Meranti bisa terpenuhi sampai ke pelosok.

Upaya Pemkab Kepulauan Meranti dalam memperjuangkan hak masyarakatnya untuk menikmati listrik diapresiasi Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Fauzi Hasan. Menurut Fauzi Hasan, capaian yang didapat Pemkab Kepulauan Meranti terkait elektrifikasi tak lepas dari hubungan yang harmonis dari berbagai pihak. Di saat jaringan PLN belum sanggup menjangkau seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti, di sana Pemkab Kepulauan Meranti hadir. 

"DPRD sangat mengapresiasi Pemkab Kepulauan Meranti dalam menerobos keterbatasan. Meskipun saat itu APBD  Pemkab Kepulauan Meranti tergolong kecil, Pemkab tak ragu membantu PLN agar bisa menjangkau pelosok desa dengan membangun jaringan listrik. Keseriusan Pemkab Meranti ini menjadi perhatian pemerintah pusat dengan mendorong PLN memperluas jaringannya," ujarnya.


Loading...
BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top