• Home
  • Meranti
  • Ini Kisah Perjuangan Dua Bidan Desa di Pulau Rangsang Kepulauan Meranti
Selamatkan Ibu Hamil, Bertahan Dengan Segala Keterbatasan

Ini Kisah Perjuangan Dua Bidan Desa di Pulau Rangsang Kepulauan Meranti

Kamis, 20 April 2017 | 21:42
KET FOTO: Dua bidan desa saat menuju tempat persalinan yang melalui jalanan berlumpur.
MERANTI, RIAUGREEN.COM - Tidak banyak tenaga medis yang mau dan mampu memilih jalan seperti yang dilakoni dua bidan desa ini. Rata-rata kebanyakan tenaga kesehatan lebih memilih daerah perkotaan untuk memberikan pelayanan kesehatan. 

Namun, tak begitu dengan bidan Zulia Deswanti Amd.keb dan Dian Febri Wulandari Amd.keb, mereka tetap mengabdi di daerah pinggiran, di perbatasan negara Indonesia - Malaysia, tepatnya di Pulau Rangsang, Desa Tanjung Kedabu Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Meskipun di daerah pengabdiannya minim penerangan listrik, signal telekomunikasi, infrastruktur  jalan yang rusak parah. Namun mereka tidak bergeming. 

Tugas para bidan di daerah pelosok tidak semudah yang dibayangkan. Hanya semangat yang melekat yang membuat mereka bertahan. Seakan-akan hujan deras yang mengguyur pun tak dapat memadamkan kobaran api perjuangan mereka dalam membantu persalinan ibu hamil di desa.

Selain minim fasilitas, mereka pun tidak mendapat gaji terhadap apa yang mereka kerjakan, karena saat ini status mereka hanyalah tenaga sukarela.

Di Desa Tanjung Kedabu ini, kebanyakan ibu hamil hanya mau melakukan persalinan di rumah, maka tugas bidan ini lah mendatangi rumah mereka. Tak jarang bidan ini pun harus merelakan kakinya bertempur melawan panasnya terik matahari, dan juga dalamnya tanah gambut yang harus dilaluinya dengan kaki telanjang. Sebab dengan cara begitulah, bidan ini bisa sampai ke salah satu dusun yakni Dusun 3 Kampung Api Api, yang jaraknya mencapai 3 KM dari tempat tinggalnya.

"Sekarang ada peraturan baru, bahwa persalinan harus dilakukan di fasilitas kesehatan, nanti mereka cukup membawa jaminan kesehatan seperti BPJS dan Jamkesda dan biayanya nanti bisa kami klaim. Jika ada masyarakat yang ingin melahirkan dirumah maka akan ditarik biaya. Tapi sayangnya di desa kami Poskesdes dan Pustu yang ada tidak dibuka lagi karena tenaga kesehatan PNS nya tidak ada. Oleh karena itu saya yang tidak pegawai ini ingin membuka praktek mandiri, saat masih dalam pengurusan," ungkap bidan Zulia.

Pusat Kesehatan Terpadu (Pustu) di desa paling ujung di Kecamatan Rangsang Pesisir ini memang sudah lama tidak dibuka, pasalnya petugas kesehatannya sudah 2 tahun yang lalu meninggalkan tempat tersebut dan pindah ke Kota Pekanbaru.

"PNS yang menjadi petugas kesehatan disini sudah lama pindah (sejak tahun 2005), jadi untuk melayani persalinan disini hanya kami berdua, tak jarang juga kami dipanggil ke desa desa lain untuk membantu persalinan disana, karena petugasnya tidak berada ditempat dan sering libur ke kota," ungkapnya.

Tak kira siang maupun malam, mereka pun harus siaga dalam mengantisipasi adanya panggilan untuk ibu yang akan melahirkan.

"Kalau malam biasanya dijemput sama keluarga pasien tapi itu kalau pasiennya dikenal. Kalau tak kenal sama pasiennya, biasanya bapak yang antarkan ketempat persalinan," katanya lagi.

Bidan Zulia Deswanti Amd.keb merupakan warga asli desa tersebut, sedangkan bidan Dian Febri Wulandari Amd.keb berasal dari kabupaten tetangga, Tanjung Balai Karimun. Mereka berdua diibaratkan malaikat penolong bagi kaum ibu. Karena jika mereka tidak mengabdi disana, para ibu hamil harus ditandu dengan kondisi jalan rusak dan didorong menggunakan gerobak menuju Puskesmas terdekat uang berada di desa tetangga ataupun di ibukota kecamatan.

"Kalau keluarga pasien memanggil kami dengan cepat, insya allah bisa cepat terbantu, terkadang saat mau lahiran baru memanggil itu yang susah, belum lagi jarak yang jauh dan susah dilalui kendaraan," katanya.

Bidan Zulia menambahkan jika ada masalah diluar wewenang, maka pasien terpaksa dirujuk ke RSUD Kepulauan Meranti maupun di Tanjung Balai Karimun.

"Kalau misalnya ada masalah seperti Hipertensi dan Retensio plasenta atau masalah yang sudah diluar wewenang bidan segera kami rujuk ke RSUD Meranti atau pun RSUD Karimun. Susahnya kalau merujuk pasien ke RSUD Meranti karena jalan tanah yang hancur jika hari hujan dan aspal nya yang berlobang Jadi kami sering gunakan tandu atau gerobak, sedangkan kendala merujuk ke Karimun, melalui laut kami harus pastikan air pasang surut. Pernah waktu seketika kami merujuk ke Karimun dengan kasus Retensio plasenta. Karena memakan waktu 3 jam perjalanan plasenta nya lahir di dalam kapal pompong,"kata dia.

Selain masalah akses dan fasilitas, permasalahan lainnya adalah kuatnya tradisi lokal yang dipegang warga setempat. Padahal, tradisi itu bertentangan dengan kaidah kesehatan yakni sebagian dari masyarakat yang 

mempercayakan proses melahirkan kepada dukun beranak seperti yang diketahui mengurut dan memijat perut ibu hamil untuk memperbaiki posisi janin melalui dukun beranak.

Penanganan yang dilakukan tersebut bertentangan dengan ilmu yang didapatnya saat mengambil pendidikan D3 kebidanan dan hal itu sangat fatal dilakukan karena bisa membahayakan kandungan. Untuk itu bidan ini pun melakukan sosialisasi lewat berbagai forum. 

"Tradisi masyarakat disini masih seperti masyarakat desa lainnya. Mereka masih menggunakan dukun kampung. Dimana dukun kampung itu ditempah semenjak hamil. Jadi selama hamil si dukun mengurut dan mendorong dengan kuat perut ibu hamil dengan tujuan membetulkan posisi janin. Sementara di ilmu kebidanan kalau pasien hamil diurut semacam itu terus menerus akan membuat lepasnya plasenta dari tempat perlekatan.Dan itu sangat membahayakan bagi ibu hamil," kata Zulia.

Untuk itu dirinya berharap kepada Dinas Kesehatan untuk memberdayakan peran dukun beranak dan membina kemitraan dengan bidan yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Terlebih dalam rangka memberikan jaminan kesehatan bagi ibu dan anak usai proses persalinan.

"Seringkali dukun beranak menakut nakuti pasien untuk tidak memanggil bidan dengan alasan yang tidak masuk akal. Itu dilakukan karena si dukun takut kalau pekerjaan nya diambil alih oleh bidan," ungkapnya. (rls/gun)


BERITA LAINNYA
IKBISAR Meranti Gelar Peringatan Maulid Nabi
Rabu, 13 Desember 2017 | 22:09
BERIKAN KOMENTAR
Top