• Home
  • MediaOutReach
  • Studi CUHK Business School: Kecantikan Tidak Selalu Memberikan Keuntungan Ketika Menggalang Dana Secara Online

Studi CUHK Business School: Kecantikan Tidak Selalu Memberikan Keuntungan Ketika Menggalang Dana Secara Online

Senin, 01 Juni 2020 | 08:10

HONG KONG, CHINA, RIAUGREEN.COM Media OutReach – Kearifan tradisional meyakini bahwa orang yang menarik secara fisik selalu membuatnya lebih mudah dalam segala hal, seperti mencari pekerjaan lebih mudah, dibayar lebih tinggi, dan ada lebih banyak peluang untuk dipromosikan. Namun, sebuah penilitian yang dilkakukan oleh Sekolah Bisnis Universitas Cina Hong Kong (CUHK) telah mengungkapkan bahwa, penampilan menarik tidak selalu menghasilakan keuntungan, setidaknya dalam hal penggalangan dana online.

Studi ini diangkat dalam tema "Kecantikan, Jenis Kelamin, dan Penggalangan Dana Online Daring" menemukan bahwa meskipun pria cenderung kurang menghasilkan lebih banyak uang daripada wanita yang tidak menarik ketika membuat sumbangan di internet. Wanita, sebaliknya, kurang mau menyumbang untuk wanita yang menarik ketika membuat sumbangan di internet.

Penulis makalah ini, Prof. Keongtae Kim, Asisten Profesor Departemen Ilmu Keputusan dan Ekonomi Manajerial, dan Ying-yi Hong, Choh-Ming Li Profesor Pemasaran Departemen Pemasaran, di CUHK Business School bekerja sama dengan Prof. Jooyoung Park, Asisten Profesor di Peking University HSBC Business School, menemukan bahwa daya tarik wanita memiliki efek berlawanan dalam menggalan sumbangan online dari pendonor pria dan wanita.

Profesor Hong, dalam makalah tersebut, mengatakan, Pria lebih bersedia menyumbang untuk wanita yang menarik karena preferensi naluriah untuk kecantikan. Sebaliknya, wanita kurang mau menyumbang untuk wanita yang menarik karena yang terakhir dianggap kurang membutuhkan.

Untuk membuktikan kesimpulan di atas, para peneliti pertama kali mengumpulkan informasi kegiatan donasi dari Kiva, sebuah platform nirlaba online yang memungkinkan orang untuk meminjamkan uang kepada pengusaha dan mahasiswa. Untuk mengesampingkan efek kecantikan pada donasi, tim hanya memasukkan kontribusi dalam kategori perawatan kesehatan yang dimulai pada 2017 dan pinjaman yang diminta hanya oleh individu lajang. Sampel akhir termasuk 3.191 pinjaman dengan total sekitar US $ 2,6 juta melibatkan lebih dari 76.600 pendonor.

Dalam menganalisis data Kiva, tim menggunakan perangkat lunak kecerdasan buatan untuk menebak jenis kelamin donor berdasarkan foto profil dan nama, karena Kiva tidak memberikan informasi tentang jenis kelamin mereka, serta mengevaluasi daya tarik penerima. Hasilnya menunjukkan bahwa daya tarik perempuan menarik (cantik) lebih banyak donor laki-laki tetapi lebih sedikit donor dari jenis kelamin perempuan, tetapi daya tarik laki-laki tampaknya tidak secara signifikan mempengaruhi jumlah donor laki-laki (atau perempuan). Secara khusus, peningkatan satu standar deviasi dalam skor daya tarik penerima perempuan menurunkan (meningkatkan) jumlah donor perempuan (laki-laki) dengan rata-rata 2,9 persen.

Proses Keputusan yang Berbeda

Setelah itu, tim peneliti melakukan serangkaian percobaan terkontrol. Dengan menunjukkan beberapa foto nyata dan potret virtual yang dihasilkan komputer yang melibatkan kegiatan penggalangan dana nyata dan fiktif, yang diwawancarai ditanya apakah mereka bersedia mendanai penggalangan dana ini dengan berbagai tingkat nilai.

Hasilnya menegaskan, ketika pria mempertimbangkan apakah akan melakukan donasi untuk penggalang dana wanita, mereka akan terkesan dengan kecantikan mereka dan menyumbangkan jumlah yang lebih tinggi, tetapi memiliki efek kurang bagi perempuan yang menyumbangkan uang kepada penerima perempuan. Sekali lagi, menjadi menarik atau tidak untuk penerima pria tidak memengaruhi kesediaan donor pria atau wanita untuk menyumbang.

Laki-laki dan perempuan juga menjalani proses pengambilan keputusan yang berbeda ketika mereka bertemu dengan penerima perempuan yang menarik, menurut penelitian tersebut. Perempuan, yang cenderung menyumbang berdasarkan motif altruistik dan empati, cenderung menganggap penerima perempuan yang menarik kurang membutuhkan dan karenanya cenderung membantu mereka daripada membantu penerima perempuan yang kurang menarik. Sebaliknya, pria – yang cenderung menyumbang berdasarkan pandangan pribadi mereka – mengandalkan preferensi intuitif dan lebih cenderung membantu penerima wanita yang menarik.

"Dalam kasus penggalangan dana wanita, penampilan memiliki peran yang lebih besar, karena situasi ini berkaitan dengan perawatan dan perlindungan, dan konsisten dengan stereotip wanita. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa motif pria terutama didasarkan pada Preferensi pribadi, tidak seperti penyandang dana perempuan, terutama mempertimbangkan perlunya sumbangan. Oleh karena itu, perempuan cantik akan menarik lebih banyak laki-laki untuk memberi dengan murah hati, namun wanita akan menganggap penerima wanita yang menarik menjadi kurang membutuhkan dan akan menyumbang lebih banyak untuk wanita yang tidak menarik sebagai gantinya," urai Profesor Kim.

Para peneliti juga menemukan bahwa pria lebih bersedia untuk mneyumbang kepada wanita cantik terlepas dari apakah pihak lain benar-benar membutuhkannya, dan ketika wanita memberikan donasi, mereka akan mempertimbangkan apakah pihak lain membutuhkan donasi atau tidak.

Dalam kasus di mana penerima sangat membutuhkan, penelitian ini menguraikan kasus hipotetis di mana seorang wanita didiagnosis dengan tumor otak segera setelah sembuh dari kanker payudara – pria masih bersedia menyumbang lebih banyak ketika wanita dalam kasus ini diduga menarik daripada ketika dia tidak menarik. Perempuan juga bersedia untuk menyumbang, terlepas dari apakah penerima perempuan itu menarik atau tidak.

Tip untuk Sukses

Jadi bagaimana caranya membuat kampanye penggalangan dana online yang sukses? Prof. Kim menyoroti perlunya memilih dengan hati-hati apa yang Anda sajikan di halaman kampanye.

"Perempuan yang menarik akan lebih mudah menarik sumbangan dari laki-laki, tetapi mereka harus secara eksplisit menekankan kebutuhan mereka untuk menarik donor perempuan, misalnya dengan memberikan rincian pada halaman kampanye mereka. Sebaliknya, perempuan yang kurang menarik dapat memperoleh manfaat dengan menargetkan donor perempuan. Pada dasarnya, amal kampanye harus mempertimbangkan penggunaan gambar dengan hati-hati, tergantung pada donor potensial mereka, " terang Profesor Kim.

Megomentari mengenai arah penelitian di masa depan, Profesor Kim mengatakan bahwa para peneliti dapat mempertimbangkan untuk memperluas cakupan bias daya tarik dalam konteks lain seperti keuangan atau investasi yang terkait di mana investor cenderung menyimpulkan bahwa pria yang menarik adalah wirausahawan yang lebih kompeten.

"Pertimbangan lain adalah bahwa penampilan yang mirip dengan kelompoknya sendiri akan menghasilkan rasa keintiman. Sebaliknya, ketidaksamaan akan menghasilkan stereotip negatif dari kelompok eksternal. Ketika penyandang dana mengevaluasi penampilan donor, itu mungkin mengambil penampilan mereka sendiri sebagai referensi, dan harga diri mereka juga akan mempengaruhi evaluasi mereka tentang daya tarik donor. Meskipun variabel-variabel ini tidak dalam lingkup studi ini, kami belum meninjaunya, tetapi penelitian di masa depan harus diuji dan didanai lebih lanjut. Bagaimana karakteristik kepribadian orang tersebut mempengaruhi efek penampilan," tutup Profesor Kim.

Referensi
Park, Jooyoung and Kim, Keongtae and Hong, Ying-Yi, Beauty, Gender, and Online Charitable Giving (November 19, 2019). Tersedia do SSRN: https://ssrn.com/abstract=3405823 atau di http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.3405823

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh CUHK Business School di https://bit.ly/2XqPkhx.


Loading...
BERITA LAINNYA
Adyen Perluas Kemampuan Akuisisi ke Malaysia
Selasa, 07 Juli 2020 | 11:37
BERIKAN KOMENTAR
Top