• Home
  • Lingkungan
  • Wah! Karhutla Sebabkan Australia dan Eropa Batasi Permintaan CPO Riau

Wah! Karhutla Sebabkan Australia dan Eropa Batasi Permintaan CPO Riau

Sabtu, 15 Oktober 2016 | 15:04
Security perusahaan sedang memeriksa Mobil CPO di Dumai
DUMAI, RIAUGREEN.COM - Australia dan Eropa masih membatasi permintaan cruide palm oil dari Riau karena mereka masih menilai indistri perkebunan sawit rentan terlibat kebakaran hutan dan lahan, meski pemerintah mengklaim pencegahan karhutla tahun ini lebih baik dari tahun lalu.

Shaun Anthony, Senior Treasury Representative - South East Asia, Kedutaan Besar Australia mengatakan pihaknya dan negara lain tidak akan mengambil komoditas tersebut jika Riau belum mampu menyelesaikan persoalan kebakaran hutan dan lahan.

"Riau memiliki produksi CPO terbesar di dunia. Namun, Eropa dan Australia masih beranggapan buruk dengan industri sawit di Riau. Karena sering terjadi kebakaran hutan dan lahan," katanya, Jumat (14/10/2016).

Dia tidak menampik bahwa membatasi permintaan CPO dari Riau akan berdampak buruk terhadap harga komoditas tersebut. Tentunya, harga sawit cenderung menurun. Hal itu juga akan berdampak dengan perekonomian Riau dan Indonesia.

Shaun berpendapat selain mencegah terjadinya karhutla, Riau juga harus meningkatkan kualitas produksi CPO agar permintaan negara tujuan ekspor dapat terjaga.

Saat ini, kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di beberapa areal perkebunan sawit di Riau. Namun, tidak sebesar kebakaran pada tahun lalu. Karhutla telah terjadi di Riau semenjak 19 tahun.

Data Kamar Dagang Industri Riau menunjukkan total produksi CPO di Riau mencapai 6,5 juta ton per tahun. Hal ini membuat Riau menjadi daerah penghasil CPO terbesar di Indonesia dengan dominasi 60%.CPO diekspor ke beberapa negara seperti Tiongkok, Eropa, Amerika Srrikat, India, Australia dan lainnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Riau Viator Butarbutar menanggapi pihak Eropa dan negara lain membatasi ekspor merupakan wujud dedikasinya untuk menjaga lingkungan. "Pemerintah harus menyelesaikan hal ini untuk menjaga kestabilan permintaan luar negeri," katanya.

Viator menambahka Riau harus mempunyai industri hilir untuk meningkatkan kualitas CPO dan membuat produk turunannya. Hal ini bertujuan agar CPO Riau tidak lagi bergantung dengan permintaan luar negeri. "Meski industri hilir sudah dibangun," kata Viator.

Sementara itu, Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman mengatakan Pemprov Riau dan Tim Satgas Karhutla sudah memaksimalkan upaya pencegahan. "Tahun ini, Riau bebas kabut asap," katanya.

Pencegahan dilakukan dengan merestorasi gambut dari pihak Badan Restorasi Gambut. Polda Riau juga terus melakukan sosialisasi dan mengenakan pidana korporasi yang terlibat karhutla. Sementara Tim Satgas Karhutla dari Angkatan Udara terus melakukan pemadaman di titik api. (red/bisnis.com)

BERITA LAINNYA
Tiga Kabupaten di Riau Masih Terdeteksi Titik Panas
Kamis, 14 September 2017 | 12:08
Riau Hari Ini Terdeteksi 27 Titik Api
Jumat, 04 Agustus 2017 | 11:43
Lima Hektar Lahan Terbakar di Meranti
Kamis, 03 Agustus 2017 | 11:08
Enam Kabupaten di Riau Tersebar 16 Titik Api
Jumat, 28 Juli 2017 | 13:34
BERIKAN KOMENTAR
Top