• Home
  • Kuansing
  • Warga Sumber Datar Tagih Pengaspalan Jalan Kepada Wabup Kuansing, Halim: Uang Kita Habis Bayar Utang

Warga Sumber Datar Tagih Pengaspalan Jalan Kepada Wabup Kuansing, Halim: Uang Kita Habis Bayar Utang

Sabtu, 05 Oktober 2019 | 01:41
RiauGreen.com
Foto: Temu ramah Wabup Halim dengan masyarakat Sumber Datar, Singingi,Jumat kemarin
TELUKKUANTAN, RIAUGREEN.COM- Suara Jamilah terdengar agak meninggi. Saat melemparkan pertanyaan kepada Wabup Kuansing, H Halim yang mengadakan temu ramah dengan masyarakat Sumber Datar, Singingi kemarin sore, Jumat (4/10/19).

Dalam pertemuan itu, Wabup Halim memang mempersilahkan masyarakat setempat bertanya apa saja. Termasuk tentang kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah Mursini-Halim (MH) selama ini.

Jamilah, salahsatunya warga yang mendapatkan kesempatan untuk bertanya. Warga Sumber Datar itu bertanya tentang realisasi janji Halim yang akan mengaspal jalan dari Simpang Handoyo sampai F10.

Janji itu ternyata pernah diucapkan Halim pada saat prosesi Pilkada 2015 lalu. Dimana Halim berjanji jika terpilih bersama Mursini, jalan sepanjang tujuh kilometer itu akan diaspal.

"Dulu bapak berjanji, kalau sudah jadi, jalan dari Simpang Handoyo sampai F 10 akan dibenahi. Tapi, tak tunggu-tunggu sampai sekarang ini sudah mau masuk lima tahun kok tak ada bapak masuk sama sekali. Nah, saat ini pas mau ada pencalonan baru bapak muncul lagi," kata Jamilah.

Menurut pengakuan Jamilah, dirinya sudah berusaha semaksimal mungkin ngademin (diamin,red) masyarakat F10. "Saya sudah bilang, nanti dimulai dari Sukamaju. Loh, sampai disini kapan? Itu yang saya pertanyakan," ujar Jamilah menceritakan sewaktu dirinya berupaya membuat masyatakat tenang.

Lalu katanya, ujar Jamilah, tidak mungkin orang eks trans berjalan dikubangan kerbau. " Tapi sampai sekarang sudah berjalan tiga kali ganti bupati, orang trans tetap saja berialan dikubangan kerbau," tutur Jamilah sembari disambut tepuk tangan warga lainya 

Menurut informasi, Jamilah merupakan salahsatu tim sukses pasangan Mursini-Halim pada Pilkada Kuansing 2015 lalu. Ia dan warga eks trans lainya, menuntut pengaspalan jalan yang pernah dijanjikan saat mau maju Pilkada lalu.

Sementara itu, Wakil Bupati Halim mengakui pernah berjanji kepada warga eks trans itu. Bahwasanya pemerintahannya akan membangun jalan mulai dari Simpang Handoyo sampai F 10.

Setelah dirinya duduk di Pemerintahan, rencana tersebut langsung ia usulkan kepada bupati. Agar janji tersebut segera direalisasikan.

"Bapak ibu sekalian kan tau, pimpinan Mursini, wakilnya Halim. Yang membikin kebijakan dan mengambil keputusan tetap bupati bapak ibu sekalian. Jadi, apa yang saya sampaikan tidak pernah dan tidak mau dilaksanakan," kata Halim menjawab pertanyaan warga itu.

Lalu, kata Halim, "Ini terjadi bukan ibu saja yang kecewa, saya juga merasa malu di depan bapak ibu sekalian. Kita tidak bisa membangun karena membayar hutang dua ratus miliar. Uang kita habis karena bayar utang," jelas Halim.

Halim mengaku, dirinya tidak pernah mengizinkan membayar utang itu. "Itu utang apa? apakah ibu tau. Apakah bapak tau, kita bayar utang dua ratus miliar," ujar Halim.

Menurutnya, utang yang dua ratus miliar itu tidak perlu dibayar karena tidak ada masalah. "Itu utang siapa? Mereka mau gugat kita,  silakan. Kita siap,  kita ada pengacara pemda untuk mengikuti gugatan itu," jelasnya kepada warga setempat.

Sekedar diketahui, Halim memang dari awal tidak setuju atas kebijakan Bupati Mursini yang kebelet melunasi utang yang ditinggalkan oleh pemerintahan Sukarmis-Zulkifli. Utang yang ditinggalkan itu ditaksir senilai lebih kurang Rp200 miliar.

Utang itu meliputi, pembayaran sisa tunggakan sertifikasi guru, dan utang sisa tunggakan pembangunan tiga pilar. Ironisnya, setelah utang dibayar, satu persatu masalah mulai muncul. Sertifikasi guru misalnya, di mana, Kejati Riau sudah mulai mengusut persoalan tersebut. 

Bahkan, baru-baru ini, Aspidsus Kejati Riau, Hilman menyebutkan persoalan Dana Sertifikasi Guru Kuansing telah memasuki tahap penyelidikan. Dan surat perintah penyelidikan sudah dikeluarkan.

"Perkara sudah masuk tahap penyelidikan dengan dikeluarkannya Surat Perintah Penyelidikan (Sprindik)," katanya.

Ia menjelaskan bahwasa pihaknya telah melakukan pendalaman dengan memanggil pihak-pihak terkait pencairan dana itu. 

"Kita dalami lagi," tutur Hilman.

Diterangkannya, kegiatan untuk tunjangan profesi dan tambahan penghasilan guru itu, dilakukan pada tahun 2015 sampai 2016. Dana yang digelontorkan sebanyak Rp 56 miliar.

"Kegiatan itu sebesar Rp56 miliar tetapi yang terealisiasi Rp38 miliar. Artinya kan ada sisa sebanyak sekitar Rp18 miliar," ungkapnya.

Menurut Hilman, pihaknya segera membentuk tim untuk melakukan penyelidikan. Dan akan segera  melakukan klarifikasi terhadap pihak pihak terkait. (hendri)

Loading...
BERITA LAINNYA
Jika Diminta, Imran Chaniago Siap Dampingi Mursini
Minggu, 13 Oktober 2019 | 18:47
BERIKAN KOMENTAR
Top