• Home
  • Kuansing
  • Menengok Usaha Kuliner Online Masyarakat Hulu Kuantan

Menengok Usaha Kuliner Online Masyarakat Hulu Kuantan

Minggu, 17 Maret 2019 | 18:09
RiauGreen.com
Foto: Mona, pemilik usaha kuliner online
HULUKUANTAN, RIAUGREEN.COM - Tinggal di desa tidak mesti kuno. Bisnis online bisa dilakoni oleh siapa saja. Tanpa memandang tempat, waktu, dan jenjang pendidikan. Termasuk mereka yang tinggal di pedesaan. 

Syaratnya adalah Anda harus punya perangkat khusus seperti, smartphone, komputer/ laptop yang  terhubung dengan internet. Disamping itu Anda harus punya pengetahuan dasar tentang pemasaran online.

Jadi, mulai sekarang Anda jangan lagi memandang sebelah mata pada masyarakat di pedesaan. Tanpa kita sadari, mungkin saja penghasilan online orang kampung itu ternyata lebih besar dari penghasilan Anda yang tinggal di kota besar. 

Gimana caranya orang kampung bisa dapat uang dari internet?  Mungkin mereka yang skeptis akan berpikir seperti itu karena kurang informasi dan tidak tahu bahwa koneksi internet sudah bisa diakses di desa.

"KedaiKopi Mona" salahsatu contoh usaha kuliner yang berada di pedesaan dengan menerapkan sistim penjualan secara online. Warung makan ini terletak di Desa Koto Kombu, Kecamatan Hulu Kuantan,  Kabupaten Kuantan Singingi. 

Sejak dibuka tiga bulan yang lalu, warung yang menjual beragam menu ini cukup mendapatkan sambutan ditengah-tengah masyarakat. 

Pemilik warung, Mona, menceritakan, awal mula buka tiga bulan lalu, dirinya sempat putus asa. Pelanggan yang datang ke warungnya hanya bisa dihitung dengan jari. Ia bahkan sempat berpikir ingin menutup usahanya.  Namun karena dorongan dari suaminya, usaha itu tetap ia lanjutkan. 

Pada suatu hari, kata Mona, usai makam malam, ia mengajak suaminya berdiskusi. Saat itulah ia mengutarakan bahwa dirinya ingin menutup saja usaha yang telah ia rintis. "Ternyata jualan ini susah. Mendingan saya tutup saja, "  cerita Mona kepada suaminya waktu itu. 

Alih-alih memberikan solusi, tutur Mona, bahkan suaminya waktu itu hanya berucap sepenggal kalimat saja. "Susah itu karena tidak tau caranya, " ujarnya menirukan ucapan suaminya. 

Mendengar jawaban itu, Mona langsung terdiam. "Ya,  saya langsung diam," ujarnya sembari memikirkan apa maksud dari ucapan suaminya itu. 

Menurut pengakuan Mona, malam itu benar-benar ia tidak bisa tidur. Memikirkan bagaimana caranya agar dagangannya bisa laku esok harinya. Lalu, terbesit ingin memasarkan produknya melalui online. "Oh, ya. Kenapa gak dicoba melalui online saja ya, " pikirnya waktu itu. 

Tanpa pikir panjang, wanita yang lama tinggal diluar negeri ini mulai mengatur strategi. Satu persatu barang dagangannya ia foto. Lalu diupload di facebook. Ia menerapkan penjualan sistim antar alamat. 

Ternyata cara itu cukup ampuh. Konsumen mulai merespon dengan baik. Orderan pun berdatangan. "Alhamdulillah, begitu saya mulai buka layanan online, barang dagangan ludes terjual. Tenyata inilah caranya, " ucap Mona sembari mengingat sepenggal kalimat yang diucapkan suami waktu itu. 

Semakin hari pelanggannya semakin bertambah. Tak dipungkirinya, setiap hari paling tidak ada sekitar 100 sampai 130 pelanggan yang memesan makananya. Satu pelanggan ada memesan lima sampai 10 porsi. Setiap hari. 

Kini, pelanggannya tidak hanya dari masyarakat biasa. Bahkan juga diminati oleh pegawai kantoran. Seperti, guru-guru dan aparat lainya. 

Mona menambahkan, selain menerima orderan melalui facebook, ia juga menerima orderan via WhatsApp. Banyaknya peminat dengan sistim layanan online ini, kedepan ia berencana akan terus mempromosikan usahanya melalui website khusus. 

"Nanti ada rencana buat aplikasi khusus. Biar masyarakat lebih gampang milih menunya. Hanya dengan mengklik gambar, disitu sudah tertera harga dan alamat pemesan," urainya. 

Mie Meledak dan Ayam Geprek. 

Ia juga bercerita, diantara menu yang ia sajikan itu yang paling banyak diminati oleh konsumen adalah "mie meledak" mie yang banyak dijual dipasaran itu diolah lagi dengan citarasa pedas. Jadi pedas itu diberi nama meledak. Meledak pedasnya. 

Tingkat kepedasan mie racikannya ini terdiri dari beberapa level. Ada level 1 sampai level 4. Semakin tinggi semakin pedas, katanya. 

Orang pedesaan kata dia, ternyata sangat menyukai makanan yang serba pedas. Bahkan ada pameo bagi orang pedesaan, tak ada cabe serasa tak makan. 

Selain menjual mie pedas ini, wanita asal, Pati, Jawa Tengah ini juga menjual ayam geprek. Menurut dia, ayam ini dikasih bumbu, digoreng lalu digeprek. Penyajiannya juga ditambahi dengan sambal yang cukup pedas. 

Tiap hari, kata dia, usahanya ini bisa menghabiskan 5 sampai 7 ekor ayam setiap hari. Dengan harga yang relatif murah yakni Rp10 ribu per porsi, ayam geprek buatannya ini cukup laku dipasaran. 

Diakhir pembicaraannya dengan RiauGreen. com, ia menekankan, berjualan secara online merupakan salah satu peluang usaha yang sangat menjanjikan saat ini. 

Dan sepertinya tren ini akan berjalan dalam waktu yang lama. Pasalnya, cara belanja sebagian masyarakat baik di pedesaan telah mengalami pergeseran ke dunia online. Juga telah mengubah tren berjualan, yaitu jualan secara online.

Ia mengajak para ibu-ibu di pedesaan, agar lebih kreatif lagi dan jangan mau kalah dengan suami. Setidaknya para ibu bisa membantu suami dalam meringankan beban keluarga. "Dengan inovasi dan kreatifitas yang dimiliki. Jangan mau kalah dengan masyarakat diperkotaan," ucapnya. (hendri)


Loading...
BERITA LAINNYA
Bawaslu Kuansing Belum Temukan Serangan Fajar
Selasa, 16 April 2019 | 23:08
Bupati Mursini: Ayo Lawan Politik Uang
Senin, 15 April 2019 | 16:55
BERIKAN KOMENTAR
Top