• Home
  • Kuansing
  • Kadis Pariwisata Kuansing Diminta Mundur Dari Jabatan
Efek Pacujalur Tak Masuk Kalender Pariwisata,

Kadis Pariwisata Kuansing Diminta Mundur Dari Jabatan

Rabu, 20 Februari 2019 | 17:54
RiauGreen.com
Poto: Dasver Librian

TELUKKUANTAN, RIAUGREEN - Segenap masyarakat Kuansing sudah mulai marah. Pasalnya, even pacujalur yang telah berumur 115 tahun lamanya dicoret dari kalender pariwisata nasional.

Efek dari pencoretan itu, Kadis Pariwisata Kuansing pun menuai sorotan. Warga menilai hal itu bentuk ketidakseriusan dinas pariwisata dalam membesarkan even ini ditingkat nasional.

"Kalau tidak sanggup membenahi tradisi dan budaya pacujalur ini mendingan Kadis Pariwisatanya mundur saja, " kata Dasver Librian kader PPP Kuansing saat berbincang dengan RiauGreen.com, Rabu (20/2/19) siang.

Vea-sapaan akrabnya menilai, budaya pacujalur ini sudah merupakan identitasnya masyarakat Kuansing. Pacujalur ini tidak bisa dipisahkan dari masyarakat. Karena sudah menjadi darah daging. Dan even ini dilaksanakan tiap tahun. Selama 115 tahun lamanya.

Pelaksanaan pacujalur setiap tahun disaksikan oleh puluhan ribu pengunjung. Bahkan pengunjung bisa mencapai ratusan ribu banyaknya. Berkat ketenaran ini, pemerintah pusat beberapa tahun belakangan ini telah memasukan even pacujalur kedalam agenda tahunan pariwasata nasional.

Namun, pada tahun 2019 ini, Kementerian Pariwisata kembali melakukan penilaian terhadap budaya daerah untuk dimasukan kedalam kalender pariwisata itu. Tim kurator yang dibentuk oleh Kemenpar itu berkoordinasi dengan pemerintahan daerah setempat melalui dinas terkait untuk menginput data.

Hasil dari penilaian itu Kemempar  memutuskan ada 100 tradisi dan budaya daerah untuk dimasukan kedalam agenda tahunan pariwisata nasional. Keputusan itu tertuang dalam SK Menteri Pariwisata RI Nomor KM 162/HM.304/MP/2018 tentang penetapan 100 Wonderful Event di Indonesia.

Dalam surat keputusan itu pacujalur dari Kabupaten Kuansing yang telah menjadi warisan leluhur itu tidak masuk didalamnya. "Ini yang sangat membuat kita kecewa. Terhadap keputusan ini telah membuktikan Kadis Pariwisata selaku pihak yang bertanggungjawab tidak mampu mengemban amanah. Ya, lebih baik mundur," tegas Vea.

Senada dengan Vea, salahseorang warga kenegerian Telukkuantan, Zubirman juga mengaku kesal dengan tidak masuknya tradisi dan budaya pacujalur ini kedalam kalender pariwisata nasional. Mestinya, kata Zubirman, even sebesar ini harusnya lebih dikembangkan. Baik pelaksanaannya maupun penganggarannya. Karena even ini telah menjadi even yang terus menerus diselenggarakan. Bukan sebaliknya dihilangkan dari kalender pariwisata nasional.

Seorang turis itu, kata Zubirman, baru akan berkunjung ke Kuansing apabila mereka menengok dikalender pariwisata nasional ada agenda pacujalur. "Sekarang pacujalur itu yang telah dihapus dari kalender pariwisata. Bagaimana mereka mau berkunjung kalau pedomannya gak ada," ujarnya.

Luapan kemarahan juga diungkapkan oleh admin group IPJKS, Syafrizal Pangean. Group pecinta pacujalur yang beranggotakan lebih dari 77 ribu orang itu juga mengecam keputusan Mempar tersebut.

Syafrizal mengaku upaya IPJKS selama ini untuk mengharumkan dan mempromosikan pacujalur akhirnya berbuah sia-sia. Bahkan sampai-sampai pacujalur menjadi tradisi terfavorit 2017 lalu.  "La litak IPJKS ma harumkan pacu jalur go,  bahkan tradisi pacu jlur terpavorit telah tercapai,, sio2 ajo jadi nye ma, " ujarnya dengan logat daerah.

Menanggapi hal ini, Kadis Pariwisata Kuansing, Indra Suandy saat dikonfirmasi RiauGreen. com belum lama ini berdalih jika even pacujalur ini kalah saing dibanding dengan tiga even budaya di Riau; Bono, Bakar Tongkang dan Tour the Siak.

Yang membuat kalah saing itu kata Indra Suandy adalah kunjungan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kuansing minim ketimbang tiga daerah itu.

"Semuanya kita akui wisman mereka jauh lebih banyak, " kata Indra singkat.

Sekedar diketahui, tradisi pacujalur merupakan tradisi leluhur masyarakat rantau Kuantan. Tradisi ini setiap tahunnya dihelat pada bulan Agustus. Pacujalur diselenggarakan selama empat hari lamanya. Lokasi penyelenggaraan terbesar diadakan di Tepian Narosa Telukkuantan.

Selama empat hari pelaksanaan even ini, setidaknya ada sekitar 400 ribu orang wisatawan nusantara yang berkunjung ke Kuansing. Bahkan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla juga pernah membuka langsung even tersebut.

Saking kagumnya dengan tradisi ini, Wapres Jusuf Kalla mengatakan pengunjung pacujalur merupakan pengunjung terbanyak nomor dua setelah pelaksanaan haji di Mekkah. (hendri)


Loading...
BERITA LAINNYA
dr Ukup Dibidik Untuk Calon Wabup Kuansing
Selasa, 07 Mei 2019 | 18:38
BERIKAN KOMENTAR
Top