• Home
  • Kuansing
  • Meskipun Sudah Melegenda, Ternyata Pacujalur Tak Masuk Dalam Kalender Pariwisata Nasional Tahun Ini

Meskipun Sudah Melegenda, Ternyata Pacujalur Tak Masuk Dalam Kalender Pariwisata Nasional Tahun Ini

Bupati Mursini Diminta Evaluasi Kinerja Bawahannya
Selasa, 19 Februari 2019 | 12:35
RiauGreen.com
Poto: Dasver Librian
TELUKKUANTAN, RIAUGREEN.COM - Guna menyukseskan target capaian 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan 275 juta pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) di tahun 2019, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) merilis 100 events pariwisata unggulan di seluruh Indonesia yang tertuang dalam 100 Calendar of Events Wonderful 2019. 

Diantara 100 Calender of Events Wonderful 2019 itu, ternyata even pacujalur di Kabupaten Kuansing tidak masuk didalamnya. Padahal menurut historinya, pacujalur di Kabupaten Kuansing ini sudah cukup melegenda. Pelaksanaannya telah dimulai sejak 115 tahun lalu. Atau lebih tua dari umur bangsa ini. 

Even pacujalur yang diselenggarakan tiap tahunnya ini juga terbukti mampu "menghipnotis" ribuan penonton. Tak pelak, mantan Bupati Sukarmis pernah menyebutnya dulu, penonton pacujalur merupakan pengunjung terbanyak setelah pelaksanaan haji di Mekkah. 

Pelaksanaan even pacujalur ini, bahkan orang nomor dua di Indonesia, Jusuf Kalla pernah menyaksikan langsung kemeriahan even budaya milik rantau Kuantan ini. Berangkat dari itu juga, beberapa tahun lalu, agenda pelaksanaan pacujalur di Tepian Narosa ini telah menjadi kegiatan penting didunia pariwisata Indonesia dengan memasukan kedalam kalender pariwisata nasional. 

Lalu pada tahun 2017 lalu, tradisi budaya pacujalur juga dinobatkan sebagai pariwisata budaya terpopuler di Indonesia. Saking tenarnya budaya pacujalur ini, bahkan sejarahwan Riau waktu itu, Prof Suwardi MS menyebutkan tradisi pacujalur selayaknya  dimasukan kedalam budaya yang dilindungi oleh PBB dibawah Unesco. Sehingga pacujalur tidak lagi menjadi warisan masyarakat Kuansing melainkan warisan kebudayaan dunia (world heritage).

Namun apa yang terjadi, melalui SK Menteri Pariwisata RI Nomor KM 162/HM.304/MP/2018 tentang penetapan 100 Wonderful Event di Indonesia,  ternyata pacujalur tidak lagi gaungnya sementereng beberapa tahun lalu. Mempar tidak memasukannya kedalam agenda pariwisata nasional. Dalam rilis Kemenpar itu, pacujalur kalah saing dengan even pariwisata yang ada di Pelalawan, Siak dan Rohil. 

Menanggapi hal ini, Kadis Pariwisata Kuansing, Indra Suandy saat dikonfirmasi RiauGreen. com kemarin, Senin (18/2/19) berdalih jika even pacujalur ini kalah saing dibanding dengan tiga even budaya di Riau; Bono, Bakar Tongkang dan Tour the Siak. 

Yang membuat kalah saing itu kata,  Indra Suandy adalah kunjungan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kuansing minim ketimbang tiga daerah itu. 

"Semuanya kita akui wisman mereka jauh lebih banyak, " kata Indra. 

Sementara itu, salahseorang politisi PPP Kuansing,  Dasver Librian menilai dalih yang diucapkan oleh Kadis Pariwisata Kuansing itu merupakan alasan yang mengada-ada. Dia beranggapan dengan alasan kunjungan Wisman sebagai variabel penilaian Kemenpar itu adalah pembohongan publik. 

"Kalau kita tengok kriteria Kemenpar tidak ada kunjungan wisman sebagai salahsatu kriterianya, "kata pria yang akrba disapa Vea ini menegaskan. 

Alasan itu,  kata Vea, merupakan ketidakmampuan para pembantu Bupati Mursini dalam meyakinkan para kurator yang ditunjuk oleh Kemempar untuk melaksanakan penilaian. Menurut Vea, dilihat dari sudut manapun, even pacujalur lebih melegenda ketimbang tiga even yang ada di Provinsi Riau itu. Baik disisi historinya maupun jumlah kunjungan wisatawan yang menyaksikan. 

Lalu kata Vea, jika dilihat dari persyaratan event pariwisata daerah yang dapat masuk dalam 100 Calendar of Events itu antara lain event yang diusulkan Pemda harus sudah dikenal oleh masyarakat dan sudah diselenggarakan secara berkelanjutan setidaknya selama 3-4 tahun berturut-turut.

Selanjutnya dari 100 Wonderful Events yang masuk dalam Calendar of Events 2019 sudah dipastikan memiliki dampak positif ke masyarakat. Artinya, diselenggarakannya event-event ini ke depannya akan memberikan dampak perputaran ekonomi yang langsung dirasakan oleh masyarakat setempat, serta mampu meningkatkan nilai media (media value) bagi citra destinasi wisata daerah. 

"Jadi tak satupun dari persyaratan yang diterapkan oleh Kemenpar itu yang menyatakan variabelnya kunjungan Wisman. Ini artinya kita sudah dibodoh-bodohi oleh para pembantu bupati, " tegas Vea lagi. 

Caleg PPP ini meminta agar Bupati Mursini lebih selektif dan selalu mengevaluasi pejabatnya. Sehingga  visi dan misi pemerintahan Mursini-Halim tercapai dengan baik. (hendri)

Loading...
BERITA LAINNYA
dr Ukup Dibidik Untuk Calon Wabup Kuansing
Selasa, 07 Mei 2019 | 18:38
BERIKAN KOMENTAR
Top