• Home
  • Kuansing
  • Mengungkap Kisah Jasad Warga Kuansing Yang Sudah Mualaf Tapi Dikremasi Secara Agama Budha

Mengungkap Kisah Jasad Warga Kuansing Yang Sudah Mualaf Tapi Dikremasi Secara Agama Budha

Kamis, 06 Desember 2018 | 22:22
RiauGreen.com
Poto saat jasad Ikramullah alias Asun yang dikremasi secara agama Budha.

TELUKKUANTAN, RIAUGREEN.COM - Merry Ocvita (38) hanya bisa mengurut dada. Disaat menyaksikan suaminya, Ikrammullah terbaring kaku disebuah Ruko yang biasanya dijadikan gudang oleh keluarga suaminya. Ruko itu hanya berlantaikan tanah. Masih terlihat sejumlah bahan material didalam bangunan itu. Itu menandakan Ruko tersebut belum sepenuh jadi.

Didalam Ruko itu, pada tanggal 18 Januari 2018 lalu, Ikrammullah dinyatakan meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya sejak 17 Agustus 2017. Ikramullah menderita strok.

Ikrammullah ini merupakan warga Tionghoa kelahiran Telukkuantan 1963 lalu. Sebelum masuk Islam tahun 2005 lalu, Ikrammullah ini bernama Englimin. Sehari-hari Englimin akrab disapa Asun.

Saat berbincang dengan RiauGreen.com, Kamis (6/12/18) Merri Ocvita dengan lantang menegaskan jika dirinya tidak merasa senang dengan cara mengkebumikan mendiang suaminya secara agama Budha.

"Mendiang itu beragama Islam, tetapi kenapa dikremasi secara Budha," ucap Merri sembari berurai air mata.

Panjang lebar Merri mengisahkan awal pernikahannya dengan Asun. Pada tahun 2005 lalu, Asun datang meminang dirinya. Disaat itu, Asun masih memeluk agama Budha. Berbeda agama, pinangan itupun ditolaknya.

"Jika abang benar-benar ingin menikah dengan saya, abang harus masuk Islam dulu," kata Merri menceritakan awal pernikahannya.

Kisah cintanya berbuah manis. Asun mengabulkan permintaan Merri. Pada tahun itu, Asun memeluk agama Islam. Mualaf. Proses Mualaf itu dilakukan di Kantor Departemen Agama (Depag) Kabupaten Kuansing.

"Setelah Mualaf, baru kami menikah," ujar Merri.

Pernikahan mereka awalnya berjalan seperti biasa. Kendatipun ditengah perjalanan ada "kerikil kerikil kecil" yang sering menyebabkan pertikaian diantara mereka. Bahkan pada tahun 2009 lalu, pernikahan mereka sempat kandas. Mereka bercerai secara resmi dipengadilan.

Namun sehari setelah itu, mereka rujuk kembali. Asun dan Merri kembali bersatu sampai maut menjemput suaminya.

Selama mengarungi bahtera rumah tangga, Asun dan Merri dikaruniai tiga orang anak. Satu laki-laki dan dua perempuan. Anak laki-laki bernama Maikel. Sedangkan perempuan bernama Ling-ling dan Amoy.

Sehari-hari keluarga ini hidup dari hasil beternak ikan. Mereka memiliki beberapa buah kolam. Kolam ini dibangun diatas lahan yang mereka beli sendiri selama pernikahan. Selain kolam, diatas lahan miliknya, mereka juga membangun beberapa unit Ruko.

"Kini semua asset yang kami miliki dirampas oleh keluarga Asun. Tak satupun tersisa. Sedangkan saya memiliki tiga orang anak. Saya mau kasih makan mereka pakai apa," kata Merri lagi.

Yang sangat menyakitkan hatinya, kata Merri, keluarga suaminya ini telah membohonginya. Dulu disaat mendiang suaminya masih terbaring sakit dirumah Merri, keluarga suaminya menjemput suaminya dengan alasan akan dibawa ke Malaka untuk berobat. Namun janji itu ternyata bohong.

"Boro-boro dibawa ke Malaka, justru yang ada Asun diletakan disebuah gudang. Digudang itu Asun tergeletak selama tiga bulan hingga ditemukan meninggal dunia," ucap Merri.

Setelah meninggal, mendiang suaminya ini lantas dibawa ke Klenteng yang berada di Sei Jering. Di Klenteng itu jasad suaminya dikremasi selama lima hari. Lalu dikebumikan di Pemakaman Tionghoa yang berada tak jauh dari Kelenteng tersebut.

Merri sempat menolak. Kenapa suaminya dikebumikan secara agama Budha. Padahal suaminya beragama Islam. "Belum pernah murtad," ucap Merri.

Kendatipun sempat menolak, namun kremasi secara Budha tetap saja berlanjut. Waktu itu, cerita Merri, dirinya sempat dipanggil oleh pihak Depag guna untuk menjelaskan status agama suaminya.

Dibawa tekanan keluarga suaminya, Merri diminta mengaku bahwasanya Asun telah kembali bergama Budha. Sebab jika Merri tidak mau mengaku demikian, pihak keluarga suaminya tidak akan mewarisi harta peninggalan Asun kepada anaknya kelak.

"Terpaksa saya berbohong kepada Depag. Karena saya diancam. Padahal suami saya tidak pernah murtad," jelas Merri.

Namun apa yang terjadi? Setelah Asun dikebumikan, janji yang telah diucapkan pihak keluarga suaminya tidak terealisasi. Jangankan memperhatikan anak-anaknya, yang ada, sejumlah harta yang dimiliki bersama suaminya telah dikuasai oleh keluarga suaminya.

Sementara itu, Ketua From Pembela Islam (FPI) Kabupaten Kuansing, Ustadz Darmawan mengaku geram mendengar persoalan tersebut. Bahkan ustadz Darmawan menyebutkan persoalan itu merupakan penistaan bagi umat beragama Islam.

"Ini jelas penistaan. Masa iya orang beragama Islam dikebumikan secara agama Budha. Bukti-buktinya kan ada. Bisa dilihat dari KTP dan akte nikah," ucap Darmawan.

Terkait persoalan ini, Darmawan mengaku telah mendengar langsung. Bahkan FPI, kata Darmawan, siap untuk mendampingi Merri Ocvita selaku pihak menjadi korban. "Kami siap mendampingi korban. Nanti kami dari FPI juga akan membicarakan hal ini dengan pihak MUI," tutup Darmawan. (hendri)


Loading...
BERITA LAINNYA
Janji Wabup Kuansing Diabaikan Bappeda
Kamis, 13 Desember 2018 | 10:20
Staf Ahli Bupati Kuansing, Eriswan Meninggal Dunia
Senin, 10 Desember 2018 | 14:04
BERIKAN KOMENTAR
Top