• Home
  • Kuansing
  • Miris, Terkendala Biaya, Nurul Aini Terancam Lumpuh

Miris, Terkendala Biaya, Nurul Aini Terancam Lumpuh

Senin, 25 Juni 2018 | 20:23
Hendrianto
Kondisi Nurul Aini Tergolek Lemas.
KUANTAN MUDIK, RIAUGREEN.COM- Sejak enam bulan terakhir kondisi Nurul Aini yang biasa disapa Lulu (14) semakin memburuk. Bahkan, putri bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Sarlis dan Nurita yang tinggal di Desa Bukit Pedusunan, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuansing ini terancam lumpuh.

Hal itu disampaikan orang tua Lulu, Nurita kepada wartawab, Senin (25/6/18) di rumahnya. Menurut Nurita, awalnya Lulu pernah jatuh di sekolah. Sejak itu, kondisi Lulu sering tidak stabil. 

"Kami heran dengan penyakit yang dialami Lulu. Sepertinya dirasuki mahluk halus. Apalagi Lulu pernah bercerita bahwa sebelum jatuh, serasa didorong orang dari belakang. Kami sudah mencoba berobat kemana-mana, tapi belum ada hasil," ujar Nurita.

Sebelumnya, lanjut Nurita, pihak keluarga sudah berobat mulai dari Puskesmas, kilinik hingga ke salah satu rumah sakit di Pekanbaru. Namun, pihak rumah sakit tidak menemukan jenis penyakit yang dialami Lulu. Jika kondisi tersebut dibiarkan dalam waktu yang lama, pihak keluarga khawatir akan mengalami lumpuh.

"Awalnya kami ke klinik, kata dokter, berkemungkinan saraf. Karena tidak ada alat, kami disuruh ke Pekanbaru. Namun setelah diperiksa diahli saraf, dokter tidak menemukan ada kerusakan di bagain saraf. Kami dianjurkan untuk scan seluruh tubuh, namun harus menunggu. Karena tidak ada biaya, maka kami bawa lagi ke kampung," kata Nurita lagi.

Selama ini, pihak keluarga hanya mengandalkan bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH) untuk membiayai hidup sehari-hari. Sejak Lulu terbaring sakit, Nurita tidak bisa lagi bekerja memotong karet seperti sebelumnya. Pihak keluarga hanya mengandalkan bantuan dari keluarga dekat dan masyarakat sekitar.

 "Iya, kami terkendala biaya. Kalau untuk berobat, masih bisa pakai BPJS. Namun untuk biaya transportasi dan biaya lainya kami tidak punya. Apalagi sejak suami saya pergi ke Kalimantan sepuluh tahun yang lalu. Otomatis, hasil memotong karet itulah untuk makan," ujar Nurita.

Camat Kuantan Mudik, Drs Jevrian Afriady MSi membenarkan adanya salah seorang warganya yang mengalami sakit tersebut. Jevrian mengatakan, masyarakat sekitar sudah mulai memberikan bantuan. Baik secara pribadi maupun secara kelompok dan organisasi. "Kami dari kecamatan juga akan berupaya memfasilitasi bantuan dari luar," singkat Jevrian. (hendri)

BERITA LAINNYA
Dipersip Kuansing Akuisi Sejumlah Arsip
Selasa, 10 Juli 2018 | 13:55
Bawa 0.28 gram Sabu, Pria Tua Dibekuk Polisi
Sabtu, 07 Juli 2018 | 11:39
BERIKAN KOMENTAR
Top