• Home
  • Kuansing
  • Warga Kuansing Mulai Bersimpati dengan Keluarga Penunggu Gubuk Reot yang Tak Miliki Sejengkal Tanah

Warga Kuansing Mulai Bersimpati dengan Keluarga Penunggu Gubuk Reot yang Tak Miliki Sejengkal Tanah

Senin, 04 Juni 2018 | 21:59
Hendri Anto
Marjono berdiri di depan gubuk reot yang ditempati bersama istri dan empat anaknya
TELUKKUANTAN, RIAUGREEN.COM - Kisah sedih keluarga, Marjono (32) yang tinggal dikebun milik orang karena tidak punya tempat tinggal mulai tersiar luas ditengah-tengah masyarakat Kuansing. 

Kabar yang cukup memilukan itu sangat menarik perhatian warga. Bahkan tak sedikit pula warga Kuansing yang ingin menggalang bantuan dana untuk meringankan beban keluarga Marjono.

Mulai dari warga biasa, hingga tokoh masyarakat pun turut prihatin atas penderitaan yang dirasakan Marjono. "Kita siap menggalang dana untuk membantu saudara kita ini meringankan bebannya," ujar Asnaldi kepada RiauGreen.com melalui pesan singkat, Senin (4/6/18).

Warga lainya, Zubirman, juga menyatakan hal yang sama. "Sekecil apapun bantuan kita akan bermamfaat bagi keluarga itu. Mari kita bantu mereka," ajak Zubirman.

Sementara itu, mantan Wakil Bupati Kuansing, Drs Zulkifli juga menyatakan kesediaannya untuk menggalang dana bantuan. Bahkan Zulkifli berniat ingin mengajak masyarakat Kuansing patungan untuk membelikan Rumah Sehat Sederhana (RSS) untuk keluarga tersebut. 
Sumur tempat keluarga Marjono mandi.

Niat ini diutarakan Zulkifli, karena hingga saat ini dirinya belum merlihat gerakan  Pemerintahan Kuansing untuk membantu keluarga Marjono. "Jika Pemkab Kuansing tidak ada niatnya untuk membantu warganya yang miskin ini, mendingan kita masyarakat patungan untuk membelikan mereka satu unit rumah tipe RSS," ujar Zulkifli.

Kritikan keras juga dilontarkan oleh mantan anggota DPRD Kuansing, Saifullah Afrianto. Pria yang akrab disapa Yan Tembak ini menilai pemerintah Kuansing kurang peduli dengan nasib warganya. "Pemerintah hanya "Mancaluang" saja melihat masyarakatnya yang miskin dan terlantar itu," ujar Yan Tembak dengan setengah bahasa daerahnya.

Sementara itu, salah seorang anggota DPRD Provinsi Riau, Marwan Yohanes juga mengaku sedih mendengar kabar adanya warga Kuansing yang tinggal dikebun karena tidak memiliki rumah itu. Melalui pesan singkatnya kepada RiauGreen.com mengaku, dalam waktu dekat dirinya akan turun ke Kuansing. 

Marwan Yohanes akan meninjau secara langsung keberadaan keluarga yang bernasib kurang baik itu. "Nanti saya akan turun langsung kesana. Kita akan carikan solusinya baik jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Kita harus bantu mereka," ucap Marwan Yohanes.

Seperti diberitakan RiauGreen.com sebelumnya, ada salasatu warga yang tinggal digubuk reot di Jalan Sukajadi, kelurahan Sei Jering tepatnya dibelakang gardu induk PLN. Mereka tinggal didalam kebun karet karena tidak memiliki tempat tinggal yang layak huni. 

Gubuk tersebut dihuni oleh Marjono dan istrinya, Eva Yuliana bersama empat orang anaknya yang masih belia. Keluarga ini terpaksa tinggal menumpang dirumah kebun itu sejak setahun yang lalu. 

Marjono ini merupakan putra asli kelahiran Sei Jering, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuansing. Sedanhkan istrinya, Eva Yuliana merupakan kelahiran Peranap Kabupaten Inhu.

Dulunya keluarga ini menetap di Pekanbaru. Karena ekonomi yang semakin sulit diperantauan, Marjono mengajak keluarganya pulang ketanah kelahirannya di Telukkuantan.

Sesampai ditanah kelahirannya, ekonomi keluarga ini belum juga kunjung membaik. Hidup tak seindah yang ia bayangkan saat hendak pulang kampung dulu. 

Untuk menghidupi keluarga kecilnya, kini Marjono bekerja sebagai penyadap karet. Sedangkan istrinya bertugas menjaga anak anaknya yang masih kecil. Kebun tersebut merupakan milik, Nasri salah seorang PNS yang bekerja di Pemkab Kuansing.

Kata Marjono, sipemilik kebun tergolong orang yang baik. Sebab, hasil dari penjualan karet yang ia dapat perminggu tidak perlu disetor kepada pemilik kebun. "Pemilik hanya minta kami membersihkan kebun ini. Kalau hasilnya dia tak minta," ujar Marjono.

Marjono mengaku, dalam sepekan penghasilan dari menyadap karet ini tidak menentu. "Kadang dapat Rp200 ribu. Kalau musim panas bisa Rp400 ribu," tutup Marjono. (hendri)


Loading...
BERITA LAINNYA
Janji Wabup Kuansing Diabaikan Bappeda
Kamis, 13 Desember 2018 | 10:20
Staf Ahli Bupati Kuansing, Eriswan Meninggal Dunia
Senin, 10 Desember 2018 | 14:04
BERIKAN KOMENTAR
Top