• Home
  • Inhil
  • Kecewa dengan Proses Hukum, Warga Inhil Mengadu ke Presiden Jokowi

Kecewa dengan Proses Hukum, Warga Inhil Mengadu ke Presiden Jokowi

Sabtu, 10 Maret 2018 | 17:49
TEMBILAHAN, RIAUGREEN.COM - Kasus dugaan pemukulan dan penganiayaan terhadap salah seorang pemuda bernama Muhamad Afid (21), warga Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuindra, Kabupaten Inhil (Indragiri Hilir), diadukan melalui sepucuk surat kepada Presiden RI, Ir. Joko Widodo.

Langkah itu dilakukan karena keluarga korban merasa kecewa dengan proses hukum di Pengadilan Negeri (PN) Tembilahan, yang dinilainya tidak adil. Maka dari itu korban menyurati Ir. H. Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, untuk meminta keadilan dan mengadukan proses hukum yang ada di Inhil.

Tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh pelaku berinisial Z terhadap korban ini terjadi pada Minggu (5/3/2017) sekira pukul 01.00 Wib, di depan rumah Damet, tepatnya di RW 04 Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuindra.

''Kejadian ini sudah satu tahun yang lalu, dan dilaporkan ke Polsek Kecamatan Kuindra, tepatnya tanggal 06 Maret 2017 yang lalu. Dan sempat diproses oleh penegak hukum dan kasus ini dilimpahkan di Pengadilan Negeri, namun sampai saat ini pelaku masih bebas berkeliaran,'' kesal pelapor Siti Hasnah, 39, kakak kandung korban, Jumat (9/3/2018) lalu.

Menurut Siti Hasnah, pelaku diadili di Pengadilan Negeri Tembilahan, akan tetapi tersangka ditangguhkan oleh majelis hakim. Dan sampai saat ini kasus tersebut belum dilanjutkan. Saat ini pelaku bebas berkeliaran.

''Saat ini adik saya cacat, sementara pelaku itu bebas berkeliaran, kami hanya meminta keadilan. Kami meminta pelaku ini dipenjara,'' sebutnya dengan berlinang airmata kepada awak media. Siti Hasnah mengaku sudah sangat kecewa dengan proses hukum di Inhil, sudah satu tahun ia meminta keadilan dari pihak kepolisian setempat.

''Sangat mengecewakan, kami ini orang kecil, kami ini orang tidak mampu. Seharusnya pelaku dijerat sesuai dengan UU yang berlaku di Indonesia,'' sebut Siti yang berprofesi sebagai pedagang keliling ini.

Siti Hasnah menceritakan kronologi pemukulan terhadap adik kandungnya tersebut. Dikatakan, saat itu adiknya sedang menonton organ tunggal (keyboard) di desa setempat, tidak lama kemudian terjadi keributan, dan adiknya mencoba untuk melerai.

''Adik saya mencoba melerai perkelahian. Saat itu pelaku adu mulut dengan orang setempat, setelah lawannya itu pergi. Pelaku menyerang adik saya,'' ungkapnya

Perkelahian pun tak terhindarkan, adiknya diserang dan dipukuli oleh dua orang dengan menggunakan benda tumpul hingga korban tak berdaya dan mengeluarkan darah dari lukanya.

''Saya melihat dengan jelas pemukulan itu. Adik saya dibacok dengan menggunakan senjata tumpul. Saya sempat melerai, namun pelaku tetap mengejar dan memukul adik saya. Saya memohon agar pelaku menghentikan memukul adiknya, namun pelaku tidak menghiraukan. Tiba-tiba saya tidak tahu lagi apa yang terjadi, seketika saya pingsan ditempat,'' ulasnya

Siti mengaku tidak tahu lagi mau mengadu kemana, sudah banyak uang yang dikeluarkannya untuk mengurus pengaduan tersebut. Maka dari itu Siti berharap surat yang dikirim kepada Presiden Jokowi tersebut dapat ditindaklanjuti, agar proses hukum di Kabupaten Inhil berjalan dengan semestinya dan berpihak kepada rakyat kecil. (sandi)

BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top