• Home
  • Hukum
  • Jual 2.391 Butir Obat Penenang Tanpa Resep, Staf RSUD Dibekuk

Jual 2.391 Butir Obat Penenang Tanpa Resep, Staf RSUD Dibekuk

Selasa, 28 Juli 2020 | 11:43
CNNI
lustrasi penangkapan.
RIAUGREEN.COM -- Empat orang pegawai di RSUD Kota Pinang, Sumatra Utara, disebut terlibat peredaran ribuan butir obat penenang merek Atarax dan Riklona yang masuk golongan psikotropika.

"Benar, keempat tersangka ditangkap dalam rangkaian operasi penangkapan mulai 22-27 Juli di empat lokasi. Keempat tersangka ini telah ditahan," kata Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Labuhanbatu AKP Martualesi Sitepu, dalam keterangannya, Senin (27/7).

Martualesi menjelaskan keempat tersangka itu adalah MR (24); ES (23) Honorer di RSUD Kota Pinang; SDM perempuan berusia 27 tahun selaku honorer bagian Apoteker Pendamping di RSUD Kota Pinang; dan ASH (26) honorer bagian Anastesi di RSUD Kota Pinang.

Kasus ini, katanya, terungkap bermula dari penangkapan terhadap MR dengan barang bukti berupa Riklona.

"Awalnya polisi menangkap tersangka MR di Hotel Nuansa di Kota Rantau Prapat. Dari tangan MR polisi menyita barang bukti 21 butir Riklona (Klonazepam)," jelasnya.

Kemudian, pihaknya melakukan pengembangan dan ditemuka fakta bahwa peredaran psikotropika ini melibatkan seorang tenaga honorer di RSUD Kota Pinang berinisial ES. Polisi yang menyamar lantas meringkus ES di depan rumah sakit melalui undercover buy dengan barang bukti 50 butir Riklona.

"Selanjutnya tim meringkus SDM dengan barang bukti berupa 2.240 butir obat Atarax (Alprazolam) di rumahnya di Komplek Perumahan AA Residen Kota Pinang," imbuh Martualesi.

Tak berhenti sampai di situ, pengembangan terus dilakukan dan tim berhasil menangkap ASH saat berada di rumah mertuanya di Jalan Lintas Cikampak-Riau.

"ASH berperan menghubungkan E dengan SDM yang menyediakan obat psikotropika," kata dia.

Psikotropika yang disita yaitu 2.280 obat Atarax yang merupakan Psikotropika Golongan 4 dengan sebutan Alprazolam atau nomor urut 2 di Permenkes RI Nomor 3 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Psikotropika.

Kemudian, 111 butir obat Riklona yang merupakan Psikotropika Golongan 4 nomor urut 30 dengan sebutan Klonazepam.

"Sehingga total keseluruhan Psikotropika yang berhasil disita yaitu sebanyak 2.391 butir," jelasnya.

Dari hasil penyidikan, peredaran obat sudah berlangsung lama sekitar setahun lebih. Modusnya adalah membeli dari penyedia obat seharga 1 strip (10 butir) seharga Rp100 ribu dan dijual kepada konsumen seharga Rp50.000 per butir atau 1 strip (10 butir) seharga Rp500 ribu.

"Terhadap kasus ini masih dilakukan penyelidikan kenapa sampai obat obatan dari rumah sakit pemerintah bisa beredar bebas tanpa ada resep dokter ataupun izin," tegasnya.

Diketahui, Atarax termasuk obat penenang yang mengandung Alprazolam. Obat ini biasanya digunakan saat panik, cemas, gangguan tidur, atau kejang otot.

Infografis Narkotik di Indonesia dalam AngkaFoto: Laudy Gracivia
Senada, Riklona, yang mengandung Clonazepam, juga digunakan untuk gangguan panik. Obat ini bekerja dengan menenangkan otak dan saraf untuk mencegah kejang. Psikotropika jenis ini salah satunya ditemukan dalam penangkapan kasus narkoba terhadap selebgram Lucinta Luna.

Martulesi melanjutkan bahwa keempat tersangka dipersangkakan melanggar Pasal 60 Ayat 3 dan 4 UU RI Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika jo Permenkes RI Nomor 3 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Psikotropika.

"Ancaman hukumannya yakni 5 tahun penjara," tutup dia.(CNNI)

Loading...
BERITA LAINNYA
Sadis! Ayah Tewas Ditombak di Depan Anak
Rabu, 12 Agustus 2020 | 14:22
Ditangkap karena Onani, Pria Teraancam 10 Tahun Bui
Selasa, 11 Agustus 2020 | 12:07
BERIKAN KOMENTAR
Top