• Home
  • Hukum
  • Sadis, Korban Ditembak, Ditikam Lalu Dimutilasi

Sadis, Korban Ditembak, Ditikam Lalu Dimutilasi

Kamis, 11 Juli 2019 | 12:54
Para korban pembantaian di Papua Nugini (Pills Kolo via ABC)
PAPUANUGINI,RIAUGREEN.COM - Seorang pejabat lokal di Provinsi Hela, Papua Nugini, menceritakan detik-detik pembantaian etnis yang menewaskan 23 orang, termasuk wanita hamil dan anak-anak. Pejabat itu menyebut para korban diserang dengan senjata api dan pisau, bahkan beberapa korban dimutilasi.

Pembantaian ini terjadi di sebuah desa bernama Karida yang ditinggali 800 orang pada Senin (8/7) pagi waktu setempat, yang  dilansir The Guardian. Kasus ini menyoroti tindak kekerasan antar suku yang marak terjadi di Papua Nugini selama bertahun-tahun.

Philip Pimua yang merupakan pejabat pada Dinas Kesehatan Karida sedang berada di lokasi saat penyerangan terjadi. Pimua menyebut bahwa serangan terjadi sekitar pukul 06.00 pagi, dengan para korban langsung dibunuh setelah membuka pintu rumah mereka ketika didatangi para pelaku pembantaian.

"Saya bangun di pagi hari, lalu pergi menyalakan api di dapur saya, pada saat bersamaan saya mendengar suara tembakan, kemudian saya melihat beberapa rumah terbakar, jadi saya tahu musuh-musuh sudah ada di dalam desa," tutur Pimua kepada The Guardian.

"Jadi saya langsung berlari menjauh dan bersembunyi di semak-semak, kemudian, sekitar pukul 09.00 atau 10.00 waktu setempat, saya kembali dan melihat mayat-mayat dimutilasi menjadi beberapa bagian dan rumah-rumah hangus terbakar," imbuhnya.

Selain menggunakan senjata api, ujar Pimua, pisau-pisau juga dipakai dalam serangan itu. Lebih lanjut, Pimua menyebut para pelaku pembantaian sebagai 'musuh' dan mungkin terkait dengan aksi kekerasan antar suku etnis. "Mereka sudah sejak lama berkelahi di sana," kata Pimua dalam pernyataannya.

Dari 23 korban tewas, sebanyak 16 orang tewas dalam pembantaian di desa Karida dan tujuh orang lainnya tewas dibunuh di desa Munima pada Minggu (7/7) lalu. Puima menyebut 16 korban tewas di desa Karida terdiri dari delapan anak-anak yang berusia 1-15 tahun dan delapan wanita yang dua di antaranya sedang hamil.

Pimua mengatakan bahwa dirinya mengenal seluruh korban di desa Karida. "Mereka semua orang-orang saya, saya kenal mereka," tuturnya.

Disebutkan Pimua bahwa beberapa korban dimutilasi sangat parah sehingga dirinya dan warga desa lainnya susah mengidentifikasi mayat-mayat tersebut. "Mereka dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Beberapa potongan tubuh susah kami kenali, hanya wajahnya saja yang bisa kami kenali, tapi kaki, tangan..." ucapnya.

Ditambahkan Pimua bahwa mayat-mayat itu ditutup dengan jaring antinyamuk sebelum dirinya dan beberapa warga desa yang selamat, melarikan diri karena khawatir pelaku akan menyerang lagi. Pimua berharap untuk bisa segera kembali ke Karida guna menguburkan jasad-jasad itu, namun dia menunggu polisi bertindak dan memberikan pengawalan.

Kepolisian Papua Nugini dalam pernyataan kepada media Post Courier menyebut serangan ini terjadi setelah terjadi serangan penyergapan pada Sabtu (6/7) lalu yang menewaskan 6 orang. Pimua menyebut serangan di desanya ini sebagai yang terburuk. "Ini yang terburuk, sangat buruk, dalam sejarah negara ini juga," sebutnya.

Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape -- yang berasal dari daerah itu -- mengatakan pembantaian ini dipimpin oleh sekelompok pria bersenjata dari suku Haguai, Okiru dan Liwi. Marape menegaskan pihaknya akan menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas pembantaian ini, dengan menggunakan 'langkah terkuat dalam hukum'.

Secara terpisah, Pimua menyampaikan keraguan bahwa pihak yang bertanggung jawab akan bisa ditangkap. "Jika Perdana Menteri menggunakan pasukan khusus dari beberapa negara lainnya dan menemukan orang-orang ini, maka dia akan bisa melakukannya, OK, tapi dengan pasukan keamanan kami, saya pikir tidak bisa," tandasnya.

Loading...
BERITA LAINNYA
Ngamar, 2 Pasang Insan Diciduk saat Razia
Kamis, 18 Juli 2019 | 13:50
Ditangkap, Seorang Pelaku Narkoba di Kampar
Kamis, 18 Juli 2019 | 13:30
Tambang Pasir Ilegal di Rupat Resah Warga
Kamis, 18 Juli 2019 | 13:02
BERIKAN KOMENTAR
Top