• Home
  • Hukum
  • Fenomena Prostitusi Online, Siswi SMP Bertarif Rp 500 Ribu

Fenomena Prostitusi Online, Siswi SMP Bertarif Rp 500 Ribu

Senin, 31 Juli 2017 | 15:46
Ilustrasi@net
RIAUGREEN.COM - AG, siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Makassar, Sulsel, terlibat jaringan prostitusi online.

Muncikarinya menggunakan salah satu akun media sosial untuk menjaring pelanggannya.

Siswi yang duduk dibangku kelas IX SMP ini mengaku baru empat bulan terlibat perbuatan haram ini.

Jawa Pos Group sempat menelusuri keberadaan siswi berinisial AG ini. Diawali dengan berteman melalui medsos anak ini. Dalam akunnya, dia menuliskan umur 17 tahun. Sekalipun, faktanya dia baru berumur 15 tahun.

Lewat media sosial inilah, FAJAR berhasil melakukan percakapan dengan AG. Sekalipun, dia memilih mode bisikan, agar pesan yang ditulisnya tidak tersimpan. Tanpa basa-basi, dia menawarkan kemolekan tubuhnya dengan tarif di atas Rp500 ribu.

Kemudian, memberitahukan keberadaannya di salah satu wisma di arah Selatan Makassar. FAJAR menyambangi wisma tersebut.

Begitu tiba di lokasi yang disebutkan, tampak salah seorang karyawan wisma, tertidur pulas di kursi. Seorang lainnya, masih terjaga dan asyik menonton saluran televisi.

Beberapa menit berselang seorang remaja perempuan muncul dari balik kamar sambil mengenakan handuk. Inilah anak yang akan menjajakan dirinya.

Tetapi dia tidak sendirian. Dua pria dewasa menyusul di belakangnya. Kedua pria itu pun keluar dari kamar AG. "Keluarki tawwa, ada tamunya, "ungkap salah seorang pria itu.

Kepada FAJAR Jawa Pos Group, AG mengaku, kedua pria itu temannya. Mereka inilah yang menjaganya, jika ada pelanggannya yang ingin berbuat jahat atau tidak mau membayar.

FAJAR pun tercengang mendengar pengakuan AG yang mengaku berumur 15 tahun dan masih duduk di bangku SMP.

Dia bahkan memperlihatkan foto dirinya yang mengenakan pakaian seragam putih biru saat berada di sekolah.

Dia kemudian secara terbuka menceritakan, awal mula terjun ke dunia prostitusi. Ini, kata dia, terjadi sejak Maret lalu setelah putus dengan pacarnya.

Tak hanya itu, hubungan dengan orang tuanya juga kurang harmonis. "Semenjak itu, saya jarang pulang ke rumah dan malas ke sekolah," ucapnya.

Dia juga mengaku uang yang diperolehnya hanya untuk menutupi pembayaran kamar wisma yang ditempatinya tersebut dan kebutuhan sehari-harinya karena memutuskan meninggalkan rumahnya.

"Penjaga wisma juga sudah tahu, kalau saya begini di sini (wisma, red)," akunya.

Psikolog UNM, Widyastuti, menjelaskan, fenomena ini terjadi karena sejumlah faktor. Beberapa diantaranya kata dia, adalah kondisi keluarga, hubungan dengan orang tua, dan pergaulan di sekolah.

"Pada kondisi inilah, anak menjadi rentan terkena pengaruh negatif dari lingkungan ataupun teman-temannya," ujarnya. (jpnn.com)



BERITA LAINNYA
Dibekuk Polisi, Sopir Angkot Setubuhi Seorang Siswi
Sabtu, 16 Desember 2017 | 08:32
Berburu Harta Soekarno, Tiga Orang Tewas Terkubur
Selasa, 12 Desember 2017 | 14:17
Embat 6 Sepeda Motor, Bule Diringkus Polisi
Rabu, 06 Desember 2017 | 15:49
BERIKAN KOMENTAR
Top