Dua Delegasi Uni Eropa Bahas Kelapa Sawit

Kamis, 25 Juli 2019 | 10:28
mcr
PEKANBARU, RIAUGREEN.COM - Dua delegasi Uni Eropa untuk Indonesia-Brunei Darussalam, Michael Bucki (Climate Change & Environment Counsellor) dan Charles-Michel Geurts (Deputy Head Of Delegation Charge d'affaires a.i) sedang menjamu tamunya, Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP-Apkasindo).

Ketua Umum DPP Apkasindo, Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP memboyong pengurus teras (Sekjen DPP Apkasindo Rino Afrino, ST, MM, Ir. Amin Nugroho, Nesto Rico, S.Sos, Djono A Burhan, S.Kom, MMgt (Int. Bus), CC, CL), anggota dewan pakar, Victor Yonathan, SH, M Not dan anggota dewan pembina, Mayjen TNI (Purn) Erro Kusnara, SIP.

Mereka berdiskusi dan bicara lepas tentang lika-liku perkelapasawitan di Indonesia dan kaitannya dengan kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II yang bakal diberlakukan pada 2024.

Gulat mulai bercerita tentang perkelapasawitan di Indonesia dan upaya petani untuk menjadi petani kelapa sawit berkelanjutan berazaskan konsep ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil).

"Sejujurnya, kami punya tradisi sejak zaman leluhur, bahwa kami harus bersahabat dengan alam dan menjadi bagian dari alam itu untuk melanjutkan kehidupan kami. Enggak lebih khawatir orang lain tentang kepunahan di Negeri ini dibanding kami sendiri," kata Gulat yang juga Auditor Resmi ISPO, Rabu (24/7/19).

Kepada dua delegasi tadi, Gulat cerita bahwa kelapa sawit tidak hanya sekadar urusan produksi dan lingkungan, tapi di dalamnya ada sekitar 24 juta jiwa manusia yang menggantungkan hidup, cukup komplit, karena 42% Sawit di Indonesia dikelola oleh Petani Sawit Swadaya.

Itulah makanya saat isu RED II menggelinding, sangat berdampak kepada petani. Petani kelapa sawit menderita lantaran oleh isu itu harga Tandan Buah Segar (TBS) atau Fruit Fresh Bunches (FFB) jatuh.

Pasar kadung menganggap isu RED II tadi sebagai bentuk ketidakpastian masa depan sawit dan cenderung dimanfaatkan para oknum eksportir CPO untuk meraup keuntungan ganda. Menderitanya Petani Sawit juga sebaliknya sangat merugikan UE, karena daya beli masyarakat Indonesia secara makro akan berkurang, seperti itulah adanya.

Erro mengamini apa yang dikatakan Gulat itu. Bahwa sawit adalah komoditas utama Indonesia. Jutaan petani dan keluarganya bergantung pada sawit.

"Saya menyarankan, demi menjaga stabilitas harga TBS sawit dan pendapatan petani sawit, ada baiknya eropa tidak menyebarkan berita negatif tentang sawit banyak sisi positif yang harus dikedepankan juga. Sebab itu tadi, secara tidak langsung berita negatif itu akan berpengaruh kepada harga TBS," katanya.

Memang kata Gulat, di sisi lain isu RED II itu ada juga dampak positif kepada petani kelapa sawit. Petani menjadi lebih inovatif, petani jadi berusaha untuk mengembangkan kelapa sawit menjadi minyak goreng dan turunan lain.

Meski begitu, sebelum RED II diberlakukan kata Gulat, Apkasindo akan memperlihatkan upaya-upaya nyata yang telah dilakukan kepada petani di seluruh Indonesia terkait prinsip-prinsip pengelolaan perkelapasawitan secara berkelanjutan tadi.

"Yang jelas, petani sawit Indonesia sudah berupaya dengan sangat serius untuk bisa menjadi petani berkelanjutan sesuai arahan pemerintah melalui konsep Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), termasuk DPP APKASINDO telah menyurati secara resmi Presiden Uni Eropa dua bulan lalu. Ini suatu keharusan buat kami Petani, untuk juga berperan untuk menyelamatkan sawit Indonesia" katanya.

Djono kemudian menimpali bahwa petani sawit saat ini sudah move on, tidak bisa lagi dianggap sebagai petani tradisonal.

"Petani sawit sudah melakukan replanting dengan konsep intensifikasi yang dibantu oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), bukan ekstensifikasi. Ini menjadi pertanda bahwa produktivitas adalah tujuan, bukan luas," katanya.

Bagi Victor Yonathan, salah satu elemen penting dalam pembahasan kebijakan RED II adalah terkait legalitas dan persoalan lingkungan.

"Saat ini, dalam diri petani sudah tumbuh kesadaran dan kemudian melakukan berbagai upaya untuk memenuhi segala aspek legalitas (perizinan, sertifikasi dan lainnya). Mereka juga makin konsen memperhatikan dampak lingkungan saat mengelola kebun kelapa sawitnya," ujar Victor.

"Perlu kami sampaikan bahwa isu kelapa sawit yang menjadi penyebab deforestasi di Indonesia, dengan tegas kami bantah. Revisi terhadap RED II memang telah dilakukan, namun kami meminta agar tetap dibuka ruang dialog hingga tercapai sebuah kebijakan yang memuaskan semua pihak," pintanya.

Setelah mendengar sederet paparan tadi, Michael mengatakan bahwa Uni Eropa (UE) paham kalau sawit memberikan dampak positif bagi perekonomian Bangsa Indonesia, sawit telah muncul sebagai komoditi yang bisa mengentaskan kemiskinan dan menjaga kestabilan sosial. UE kata Michael tidak membuat peraturan khusus untuk Indonesia.

"Kami membuat peraturan untuk memastikan bahwa bahan bakar biofuel yang digunakan oleh orang-orang di Eropa terbarukan, tidak membunuh monyet dan tidak mengakibatkan deforestasi," katanya.

Sebab masyarakan Eropa kata Michael sangat peduli dengan penggunaan energi terbarukan yang tidak merusak lingkungan.

"Jadi Eropa hanya ingin memastikan bahwa bahan bakar yang digunakan berasal dari sawit yang dikelola secara berkelanjutan," ujarnya.

Sebelum peraturan RED II diberlakukan, Eropa kata Charles membuka diri untuk diskusi dan berdialog dengan Apkasindo sebagai organisasi Petani Sawit.

Tujuannya tentu untuk mendapatkan informasi lebih presis dan akurat sebagai bahan revisi RED II. UE juga kata Charles sedang menelaah dan mematangkan definisi "renewable" untuk meminimalisir kesalahpahaman terkait apa yang dimaksud dengan energi terbarukan itu.

Kemudian UE juga akan menilai kriteria komoditas sawit high-risk atau low-risk terhadap deforestasi. Namun satu hal yang perlu diingat kata Charles, UE akan memperlakukan sawit petani secara khusus.

"Lalu, gimana caranya mendata para petani sawit ini? Sebab tidak mungkin mendatangi para petani satu persatu," Michael bertanya.

Rino yang mendengar pertanyaan itu spontan memperlihatkan Kartu Tanda Anggota (KTA) Apkasindo kepada Michael.

"KTA ini adalah cara kami untuk mendata para petani sawit yang ada diseluruh Indonesia dan ini sedang kami kebut," terang Rino.

Menengok KTA itu, Michael sedikit kaget dan manggut-manggut.  Menurutnya ini adalah sebuah game changer, sesuatu yang luar biasa yang dilakukan untuk mendata para petani kelapa sawit dan KTA ini akan meningkatkan transparansi.

"Pintu kami selalu terbuka untuk Apkasindo berdikusi, berkoloborasi untuk mencari solusi," kata Michael.

Dan UE kata Michael sangat berharap bisa bekerjasama dengan Apkasindo demi memantapkan aturan RED II supaya tidak merugikan petani sawit di Indonesia.

"Ada 2 studi yang sedang dikerjakan oleh UE; TRUST dan Value Chain for Agriculture and Development. TRUST adalah sebuah penelitian mengenai performa kebun sawit. Di sini akan dicari tahu sederet hal yang antara lain; apakah kebun sawit sudah dikelolah secara berkelanjutan atau tidak. Lalu apakah petani sudah mendapatkan training sustainable atau belum," rinci Michael.

Performa tadi kata Michael akan dinilai menggunakan indikator dan hasil akhirnya adalah peta berwarna (hijau, kuning dan merah). Kalau kebun milik petani ini sudah dikelola secara berkelanjutan maka warnanya hijau dan jika belum sama sekali, warnanya merah. Data ini akan dispesifikasi berdasarkan kabupaten," ujar Michael.

Lantas studi kedua adalah mencari tahu seberapa bermanfaat kebun kelapa sawit bagi petani. Apakah meningkatkan perekonomian petani atau menurunkankan atau hanya dinikmati oleh segelintir korporasi.

"Saat ini kami memantau perkembangan seluruh aspek tentang sawit, tapi bisa jadi di masa depan kami juga akan memantau biofuel yang berasal dari minyak kedelai. Seperti yang di Brazil misalnya," kata Michael.

Tapi dengan komunikasi aktif, perbaikan tata kelola sawit berkelanjutan, pengolahan data dan informasi secara lebih luas dan transparan diyakini akan membikin sawit sudah low risk sebelum 2024.

"Saya mengajak Michael dan Charles untuk menghadiri groundbreaking peletakan batu pertama pabrik CPO pertama milik petani sawit di Kalimantan Selatan pada 5 Agustus mendatang," ajak Gulat.

Yang diajak pun langsung tersenyum mengangguk antusias sambil menyampaikan dengan senang hati mendengar kabar baik ini karena sesuatu yang dinanti oleh kalangan internasional. (MCR)

Loading...
BERITA LAINNYA
Harga TBS Kelapa Sawit Naik Jadi Rp1.682,20 per Kg
Selasa, 12 November 2019 | 15:54
Harga TBS Kelapa Sawit Naik Lagi Rp31,27 per Kg
Rabu, 30 Oktober 2019 | 11:11
Bank Indonesia Corner ke-13 Diresmikan
Selasa, 15 Oktober 2019 | 11:35
Harga TBS Kelapa Sawit Pekan Ini Naik
Rabu, 09 Oktober 2019 | 13:13
Hotel Okura to Enter Russia Market
Senin, 02 September 2019 | 12:57
Pekan Ini Harga TBS Kelapa Sawit Naik
Kamis, 22 Agustus 2019 | 20:45
Di Pekanbaru, Harga Cabai Naik
Kamis, 15 Agustus 2019 | 16:27
Dua Delegasi Uni Eropa Bahas Kelapa Sawit
Kamis, 25 Juli 2019 | 10:28
BERIKAN KOMENTAR
Top