• Home
  • Dumai
  • Terdakwa Kasus Mutilasi Suci Fitria Dibebaskan Majelis Hakim PN Dumai

Terdakwa Kasus Mutilasi Suci Fitria Dibebaskan Majelis Hakim PN Dumai

Kamis, 30 Juli 2020 | 23:42
Kapolres Dumai menggelar konferensi pers penangkapan tersangka kasus mutilasi yang jasad korbannya ditemukan tanpa kepala di Pantai Koneng Dumai
DUMAI, RIAUGREEN.COM Majelis Hakim Pengadilan Negeri Dumai yang menyidangkan perkara kasus mutilasi dengan korban Suci Fitria warga Taman Karya Kota Pekanbaru mengabulkan eksepsi Penasehat Hukum terdakwa Vr dalam agenda putusan sela. Melalui putusan itu, terdakwa Fr kembali menghirup udara bebas sejak Rabu kemarin.

Humas PN Klas IA Dumai, Desbertua Naibaho SH,MH dikutip dari revolusi.co.id membenarkan Majelis Hakim mengabulkan eksepsi Penasehat Hukum terdakwa Veri karena menyangkut kompetensi relatif.

" Surat dakwaan tidak memenuhi pasal 143 KUHAP ayat 2, tidak memenuhi syarat formil dan materil, yaitu pokok perkara, lokus dan tempos. Dasar wewenang hakim menurut pasal 156," ujar Naibaho saat ditemui, Kamis (30/07/20).

Hanya saja terkait tidak terpenuhinya pasal 143, Naibaho mengaku tidak mengetahui secara jauh tentang syarat formil dan materil yang menjadi pertimbangan hakim untuk mengabulkan esepsi PH terdakwa.

Sementara Penasehat Hukum terdakwa Veri ketika dihubungi mengaku mengajukan eksepsi dengan dalih Pengadilan Negeri Dumai tidak berhak menyidangkan perkara tersebut.

" Kita ajukan eksepsi karena lokusnya tidak di Dumai, jadi PN Dumai tidak berhak menyidangkan perkara ini," ujar pengacara Veri.
Adapun Majelis hakim Pengadilan Negeri Dumai yang menyidangkan perkara itu diketuai Alfonsus Nahak SH,MH dengan hakim anggota Renaldo Tobing SH,MH dan Abdul Wahab SH,MH.

Sementara Kepala kejaksaan negeri (Kajari) Dumai, Khairul Anwar SH mengatakan keputusan pihak Pengadilan Negeri Dumai akan dilaksanakan pihaknya.

" Kita laksanakan keputusan hakim dan lakukan perlawanan. Harus lakukan perlawanan hukum," tegas Kajari Dumai, Khairul Anwar SH saat dikonfirmasi melalui sambungan telpon seluler.

Diberitakan beberapa waktu lalu, terbongkarnya pelaku kasus pembunuhan Suci Fitria (21) warga Perumahan Inayasa Jalan Taman Karya Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru yang jasadnya ditemukan tanpa kepala di Kawasan Pantai Koneng Kelurahan Teluk Makmur Kecamatan Medang Kampai Kota Dumai, Kamis (2/5/2019) sekitar pukul 10.20 WIB lalu berawal dari signal telpon seluler milik korban.

Memasuki bulan ke 8 penyelidikan kasus itu, telpon seluler milik korban yang hilang saat kejadian pembunuhan ternyata kembali diaktifkan oleh seseorang. Tanpa membuang waktu, pihak kepolisian langsung melacak lokasi posisi telpon seluler itu.

Tanpa kesulitan, pemegang handphone milik korban itu berhasil ditemukan. Namun saat diinterogasi petugas, dirinya mengaku membeli handphone tersebut dari orang lain.
Menindaklanjuti informasi itu, petugas kemudian melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan pihak yang menjual handphone itu. Namun saat diperiksa, ternyata handphone tersebut juga dibelinya dari orang lain.

Berdasarkan keterangannya, akhirnya pihak kepolisian mengantongi nama pria berinisial VH (52) warga Tangkerang Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru.
VH yang berprofesi sebagai kontraktor dan tinggal di rumah mewah itu disela waktunya juga menjadi pengemudi jasa online. Sebelum ditemukan tewas, korban melalui aplikasi online memesan transportasi dan dijemput oleh pelaku.

Ketika didatangi petugas, pelaku sempat mengelak dan membantah. Namun petugas tidak percaya begitu saja. Petugas kemudian melakukan penggeledahan di kediaman pelaku. Upaya yang dilakukan itu berhasil menemukan titik terang.

Jam tangan milik korban berhasil ditemukan aparat di rumah pelaku. Selain itu di dalam kantong jaketnya juga ditemukan kertas dengan tulisan Pantai Koneng. Sebagaimana diketahui, Pantai Koneng merupakan lokasi tempat ditemukannya korban mutilasi tersebut.

Berdasarkan bukti awal yang cukup kuat itu, petugas langsung menangkap dan mengamankan pelaku. Bersama barang bukti yang diperoleh, pelaku dibawa ke Mapolres Dumai untuk menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut.

" Dari bukti-bukti yang kita temukan, statusnya sudah kita naikkan menjadi tersangka, kendati hingga kini pelaku belum mengakui perbuatannya. Pelaku kita jerat dengan pasal 340 jo 338 dengan ancaman hukuman pidana minimal 15 tahun penjara," tegas AKBP Andri Ananta Yudistira, Sabtu (18/01/20) lalu.(rds)

Loading...
BERITA LAINNYA
Zul AS Ambil Sumpah PNS Dumai Secara Virtual
Kamis, 13 Agustus 2020 | 12:46
BERIKAN KOMENTAR
Top